Mengubur “Ari-ari” Kehidupan

 

 

Saat mennyaksikan seorang bayi yang baru lahir, saya kebetulan selalu tertarik untuk mengamati bagian tali pusar yang masih bengkak dan belum ‘cuplak’ (jawa: lepas).

Bagian ini yang sedianya adalah saluran pintar untuk mengirimkan sari-sari makanan dari tubuh ibu ke calon bayi yang masih ada di dalam kandungan yang kemudian harus dibuang dan dikubur hingga disebut sebagai ari-ari.

Sewaktu kecil pun saya seringkali suka mengamati prosesi ari-ari ini dikubur di depan rumah, ditaburi bunga-bunga, diberi penerangan berupa lampu listrik atau pun oblik, dan dikurungi memakai kurungan ayam yang terbuat dari bambu sampai “selapan” (saat bayi berumur 40 hari).

 

Mengubur Ari-ari dan Adat yang Turun Temurun

Saya kecil yang selalu ingin tahu pernah bertanya kepada nenek saat beliau mengubur ari-ari milik adik sepupu.

“Biar dijaga malaikat.” Begitu jawaban singkat beliau yang tidak pernah menjawab pertanyaan saya waktu itu hingga menguap bersama waktu.

Membahas tentang ari-ari ini memang menarik, tetapi saya tidak sedang akan membahas tentang adat istiadat di kalangan masyarakat Jawa yang saat ini sudah mulai ditinggalkan karena ilmu pengetahuan yang sudah mulai berkembang hingga masyarakat bisa berpikir kritis atas hal-hal yang tidak masuk akal. Meski pada kenyataannya masih banyak yang juga belum bisa move on dari adat istiadat ini dengan motif untuk menghormati warisan leluhur.

 

Ari-ari dan Fasilitas Hidup

Coba perhatikan saat bayi lahir, plasenta (ari-ari) dipotong dan kemudian dikuburkan sebenarnya adalah awal dimulainya kehidupan baru bagi sang bayi untuk merantau dan meninggalkan kenyamanan yang dinikmatinya kurang lebih 9 bulan 10 hari dalam kandungan ibunya. Ia akan berjuang untuk “hidup sendiri” dengan tanpa membawa fasilitas (ari-ari) yang digunakan selama dalam kandungan. Bahkan malah ari-ari itu kemudian dikuburkan, membusuk bersama mikroorganisme di dalam tanah.

Kehidupan bayi dalam kandungan ibu, dapat diibaratkan hidup yang penuh kenyamanan. Segala sesuatunya mudah diperoleh dan penuh dengan pengakuan. Namun, semua itu ada batasnya dan tidak ada yang abadi.

Mengambil analogi sang bayi tersebut, kehidupan manusia pun ternyata memerlukan waktu dan upaya maksimal untuk menyesuaikan diri di tempat yang baru. Ada yang begitu memasuki tantangan yang baru, selalu muncul keinginan untuk kembali pada nostalgia kenyamanan terdahulu yang pernah diraihnya. Ada pula demi menjaga kenyamanan diri selalu menyertakan ari-ari (fasilitas dan kawan-kawannya) di tempat yang baru.

Tua itu Pasti, Dewasa adalah Pilihan

Belajar dari sang bayi, setiap manusia dituntut untuk mandiri dan tidak bersandar kepada orang lain. Membangun tali silaturahmi dan jaringan adalah upaya yang efektif dalam rangka mengembangkan kompetensi. Namun, bergantung kepada orang lain hanya supaya dirinya terangkat, merupakan upaya yang tidak efektif untuk mengasah kemampuan diri.

Seperti halnya bayi, tak selamanya minum ASI, dia akan berkembang dalam fase MPASI. Demikian pula manusia, setiap individu yang mandiri tidak akan puas dengan tantangan pekerjaan yang biasa-biasa saja. Ia akan terus bertumbuh baik dari segi kompetensi maupun kinerjanya.

Tua itu pasti, dewasa adalah pilihan. Bertambahnya usia adalah hal yang pasti dan tidak bisa dipungkuri. Memutuskan mengubur ari-ari kehidupan dengan terus bertumbuh dan berkembang dalam peningkatan kualitas moral, spiritual, dan sosial, serta kompetensi adalah pilihan kita sendiri.

 

Wallahu a’lam bishowab...

Lmj, 1 Agustus 2020

 

SAFETY PLAYER




Manajemen “Safety Player” adalah pemain yang selalu mencari keselamatan dirinya sendiri. Kalau bahasa Lumajangnya kira-kira begini: “wong sing seneng nggolek amane dhewe”. Wkwkwkwkwk...

Pada dasarnya sifat manusia cenderung untuk mementingkan dirinya sendiri. Coba lihat saat kita menggaruk bagian tubuh yang gatal, ke manakah arah garukan tersebut? Semua yang enak biasnaya terlebih dahulu diarahkan pada diri sendiri. Ketika ancaman datang, maka menyelamatkan diri sendiri juga bagian dari sifat dasar tersebut.

Ada sebuah kisah menarik untuk sama-sama kita refleksikan dalam kehidupan sehari-hari untuk menyesap hikmah tentang tema ini.

Suatu sore, sebuah pesawat Fokker 27 milik maskapai penerbangan sedang terbang melayang melintasi hutan-hutan di seputar Bukit Barisan, Sumatera Utara. Di dalamnya terdapat tujuh orang yakni sang pilot, asisten pilot, seorang pejabat, seorang rekanan, seorang staf ahli, seorang pensiunan, dan seorang asrot (asisten sorot) yang biasa membantu presentasi atasannya. Semua penumpang tersebut memiliki tujuan yang sama untuk sebuah agenda dinas: Kota Medan.

Rupanya, di luar cuaca sangat tidak bersahabat. Hujan angin, dan petir yang menyambar-nyambar sehingga membuat pesawat oleng ke kiri dan ke kanan. Pilot sudah kewalahan dalam mengemudikan pesawatnya, hingga pada suatu waktu diambil keputusan untuk melaporkan kepada menara pengawas terdekat bahwa pesawat akan jatuh. Sang pilot melaporkan bahwa pesawat dihadang cuaca buruk dan kemungkinan akan jatuh.

Benar saja, beberapa saat setelah pilot mengirimkan kawat SOS, tiba-tiba dari bagian belakang pesawat terdengar letupan kecil yang menandakan bagian ekor pesawat tersambar petir. Semua penumpang diam ketakutan, bahkan banyak yang berdoa memohon keselamatan.

Beberapa saat kemudian, ruang kokpit terbuka dan keluarlah pilot beserta co-pilot untuk melaporkan kejadian ke seluruh penumpang.
“Para penumpang yang terhormat, saya punya berita baik dan buruk. Berita buruknya bahwa kita sebentar lagi akan jatuh di hutan belantara yang ada di sekitar Bukit Barisan. Sedangkan berita baiknya, di pesawat ini ada enam parasut. Saya dan mitra saya (co-pilot) sudah mengambil dua!”

Sesaat kemudian pilot dan co-pilot membuka pintu pesawat dan melompat menyelamatkan diri. Penumpang masih tersisa 5 orang lagi, sementara parasut yang tersisa tinggal 4 buah.

Tiba-tiba sang pejabat menarik satu parasut sambil berkata, “Saudara-saudara, saya adalah seorang pejabat di perusahaan kita, Anda tahu itu. Banyak surat-surat yang menyangkut nasib orang banyak belum saya tanda tangani. Begitu juga dengan rapat-rapat penting lainnya. Kehadiran saya di Medan sangat dinanti-nantikan oleh Gubernur dan seluruh pegawai. Jadi, bagaimana pun saya harus selamat.” Sang pejabat pun lalu melompat menyelamatkan diri.

Tidak ketinggalan rekannya. Dia mengatakan, “Saudara-saudara, sebagai penyalur dan distributor, keberadaan saya sangat penting. Barang-barang untuk perusahaan saudara akan tersendat kalau saya tidak ada. Di samping itu, ada begitu banyak orang saat ini sedang menanti-nantikan amplop dan transfer rekening dari saya. Kalau saya tidak ada, kasihan mereka.” Lalu ia meraih satu parasut dan melompat.

Demikian pula dengan penumpang berikutnya, seorang staf ahli perusahaan. Dia mengatakan, “Uang perusahaan telah habis untuk menyekolahkan saya hingga jenjang pascasarjana. Kehadiran saya sangat berguna untuk memberikan masukan yang berharga bagi direksi dan perusahaan. Hanya sekian orang yang di perusahaan yang pandainya seperti saya.” Dengan buru-buru ia pun mengambil parasut dan keluar. Melompatlah ia sambil berteriak kegirangan, “Succsess is never die!”

Tinggallah seorang pensiunan dan asisten sorot yang terbengong-bengong menarap satu parasut.
Akhirnya, sang pensiunan berkata, “Anakku, bapak sudah lama hidup dan bahagia bekerja di perusahaan. Banyak kesehahteraan yang bapak peroleh selama berkarya di perusahaan. Bahkan, sekarang anak-anak saya sudah jadi “orang” semua. Saatnya sekarang bapak mau berbagi dan memberi kesempatan kepada yang muda. Ambillah parasut ini, biar bapak terjun bersama dengan pesawat ini nanti!” Seru pensiunan dengan nada mengharukan.

Mendengar hal ini, si asisten sorot tersenyum dan dengan tenang berkata kepada pensiunan tersebut, “Tenang, Pak, jangan khawatir. Kita masih bisa menyelamatkan diri bersama-sama.” Si asisten sorot yang pandai tadi tidak menggunakan parasut, namun baru saja melompat keluar dengan memakai tas ransel yang berisi LCD (in focus).

Sifat dasar untuk memenangkan diri sendiri yang terus menerus akan menjadi warna dalam kehidupan seseorang dan ini disebut sebagai “safety player”. Hal ini hanya bisa diubah dengan adanya internalisasi nilai-nilai agama, latar belakang pendidikan, pola asuh dan lingkungan sehingga sifat mementingkan diri sendiri akan pelan-pelan berubah menjadi lebih mementingkan orang lain.

Pun tidak ada korelasi yang positif antara jabatan, kekayaan, dan jenjang pendidikan pada seseorang untuk mau berkorban bagi orang lain. Karena sejatinya pengorbanan itu digerakkan oleh mesin hati yang ingin selalu melayani meski tanpa mendapatkan apresiasi.

Bukankah Allah Maha Mendengar dan Mengetahui? Tidak ada satu pun perbuatan baik yang luput dari penglihatan-Nya. Demikian pula tidak ada  perbuatan (bahkan niatan) buruk yang terhindar dari pengamatan-Nya. Pengorbanan yang dilakukan manusia terhadap orang lain tentu akan memperoleh pahala yang setimpal dari-Nya tepat pada waktunya.

Menutup refleksi ini, Glen Clark pernah memberikan nasihat berharga, “Kalau anda ingin menempuh jarak jauh dan cepat, ringankanlah beban Anda. Tanggalkan segala iri, kecemburuan, ketidakrelaan mengampuni, sikap mementingkan diri sendiri, dan ketakutan!” Sudahkah kita berikan “parasut” kita kepada orang yang lebih membutuhkan?

Lumajang, 22 Juni 2020

Meniupkan Ruh pada Tulisan





“Satu peluru hanya mampu menembus satu kepala, namun satu tulisan bisa menembus beribu kepala bahkan malah jutaan.” (Sayyid Qutb)

Betapa dahsyatnya pengaruh sebuah tulisan yang kita hasilkan. Apalagi jika tulisan tersebut memiliki pengaruh sangat dahsyat hingga membuat orang lain berubah menjadi lebih baik. Tak jarang, beberapa tulisan menjadi washilah hijrahnya seseorang menuju rabb-Nya.
Sebaliknya, jika tulisan itu berisi ajaran sesat atau keburukan. Pastilah yang terjadi adalah rusaknya peradaban.

Saya jadi teringat kisah seorang bangsawan berkebangsaan Perancis, Marque De Sade penulis filsafat yang diganjar hukuman 29 tahun penjara karena menulis perihal yang bertentangan dengan ajaran gereja. Tulisan De Sade dianggap melanggar etika dan tata krama karena mengumbar nafsu dan seksualitas. Kisahnya tragis, hingga ia mengakhiri hidupnya dalam sel penjara tanpa apa-apa termasuk pakaian yang melekat di tubuhnya. Tetapi yang menarik, di akhir hidupnya itu, De Sade masih berusaha menulis di tembok penjara dengan kotorannya sendiri setelah tak satupun benda atau anggota tubuhnya yang bisa digunakan untuk menyalurkan pemikirannya. Kisah Marque De Sade ini sempat difilmkan di tahun 2000 silam dengan judul The Quills.

Lain halnya dengan kisah seorang imam penulis kitab Shahih Bukhari. Beliaulah Imam Bukhari, seorang imam yang sudah tak diragukan lagi bagaimana sifat wara’ beliau kepada Allah. Sampai ketika menyusun kitab Shahih Bukhari pun beliau harus sangat hati-hati.

Seperti kisah beliau yang dituturkan salah seorang muridnya, al-Firbari, Imam Bukhari suatu ketika berkata mengenai awal mula penulisan karya best seller-nya  itu, “Saya menyusun kitab al-Jami’ as-Shahih ini di Masjid al-Haram, Makkah. Dan saya tidak mencantumkan sebuah hadist pun kecuali sesudah shalat istikharah dua rakaat, memohon pertolongan kepada Allah, dan sesudah meyakini betul bahwa hadist itu benar-benar sahih.”
Allahu...Masya Allah betapa beliau sangat menjaga hubungannya dengan Allah SWT. Dzat dari segala Dzat yang meniupkan kita ruh kehidupan di atas muka bumi ini. Atas karunia Islam, iman, rezeki, kesehatan bahkan jodoh yang sholih dan sholihah dari-Nya.

Kisah Marque De Sade dan Imam Bukhari memang tak layak disandingkan. Tetapi, dari dua kisah ini kita hendak mengambil sebuah pelajaran. Motivasi menulis yang besar yang dimiliki oleh De Sade harus melebihi motivasi kita sebagai seorang muslim yang diperintahkan menyerukan kebenaran hingga cahaya iman memenuhi setiap rongga jiwa pemebacanya. Pun sifat wara’-nya Imam Bukhari harusnya menjadi teladan bagi kita para penulis. Bagaimana kita senantiasa menjaga hubungan kita dengan Allah untuk menghasilkan sebuah karya yang memiliki ruh. Teori dan teknis kepenulisan saja tetunya tidak cukup untuk menghasilkan sebuah karya yang berkualitas. Hingga hal ini senada dengan quotes dari Bunda Helvy Tiana Rosa. Beliau mengatkan bahwa,
“Buku yang kau tulis adalah semacam jejak yang terus menyala di dunia, dan bisa menjadi cahaya akhiratmu.”

Semoga dengan terus membangun kedekatan kita dengan Allah, tulisan-tulisan yang kita hasilkan akan memiliki ruh hingga sampai ke hati-hati para pembacanya. Terlebih, karena tulisan kita mereka terinspirasi dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aamiin...aamiin...ya rabb 🤲🏻


Wallahu a’lam bishowab...

Lumajang, 7 Juni 2020

Yes Man Karena Sungkan yang Tidak pada Tempatnya



“Seorang yang sudah terlalu banyak menerima pemberian, akan sulit menegur saat pemberi melakukan kesalahan.”

Ada sebuah kisah menarik yang pernah saya baca dari sebuah buku motivasi. Dalam cerita tersebut dikisahkan seorang ibu yang sedang mengandung anak kembar laki-laki. Tidak ada tanda-tanda kelainan apapun dalam masa kehamilan ibu tersebut. Hanya di hari kesepuluh bulan kesembilan, tak ada tanda-tanda ibu tersebut akan melahirkan. Beliau berpikir mungkin karena bayi laki-laki, hingga kemudian ia memutuskan untuk bersabar menunggu dan beraktivitas seperti biasa.
Hingga hari berganti hari, bulan berganti bulan pun tahun berganti tahun, si ibu belum juga melahirkan, sementara perut si ibu semakin membesar dan makanan yang masuk pun semakin banyak. Hingga memasuki tahun keempat puluh, para pemuka adat dan tabib berencana mengeluarkan bayi dewasa yang ada dalam kandungan ibu tersebut. Hal ini dilakukan karena melihat kondisi sinibu yang makin lemah dan tua. Operasi yang direncanakan untuk mengeluarkan bayi kembar tersebut melibatkan banyak tabib senior yang ada di negeri tersebut.

Bersyukur operasi berjalan lancar, tetapi yang menakjubkan saat kandungan si ibu dibuka tampak dua orang manusia yang sudah berjanggut dan berkumis dengan ibu jari saling menunjuk satu sama lain. Karena dianggap sudah dewasa, sang tabib berinisiatif untuk bertanya mengapa mereka tidak keluar-keluar sejak usia 9 bulan 10 hari yang lalu? Mereka kemudian menjawab sambil tetap saling menunjuk,
“Kami saling mempersilakan. Saya meminta agar dia keluar terlebih dahulu, tapi malaht dia juga mempersilakan saya lebih dahulu, terus saja begitu. Hingga anda para tabib membuka pintu kandungan ini.”

Budaya sungkan (ewuh pakewuh) ini adalah cerminan dari budaya Timur yang sangat menghargai orang lain dan tanpa bermaksud menjatuhkan apalagi mempermalukan. Namun, porsi yang berlebihan dari budaya sungkan ini justru akan menghambat bergulirnya roda organisasi dan pencapaian tujuan yang sudah ditetapkan bersama.

Beberapa hal yang memicu budaya sungkan ini dalam kehidupan sehari-hari biasanya karena faktor seseorang yang sudah terlalu banyak menerima pemberian (kebaikan) orang lain akan sulit menegur si pemberi tersebut apabila melakukan kesalahan. Mungkin juga dapat terjadi seseorang sulit memberi masukan pada orang lain (mungkin atasan sekalipun di organisasi tersebut) yang sudah sangat senior dengan segudang kompetensi yang dimiliki hingga ketika fenomena sungkan ini dirasa sangat berlebihan, maka akan memicu seseorang untuk menjadi “Yes Man” atau “Asal Bapak Senang” (ABS). Di depan berkata iya, tetapi lain dengan kenyataan yang sebenarnya. Padahal tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Semua manusia perlu dikoreksi, diluruskan, dan diarahkan dengan baik untuk mencapai tujuan bersama. Yang menjadi fokus di sini bukan apa yang disampaikan tetapi bagaimana cara menyampaikannya.

Budaya sungkan ini nampaknya harus dilawan dengan sikap asertif. Sikap asertif ini memiliki keberanian yang sungguh-sungguh untuk mengatakan kebenaran yang ada sekalipun dengan resiko siap untuk tidak disukai orang lain. Ia berani mengatakan apa yang benar kepada orang lain (sekalipun mungkin tidak mengenakkan hati orang tersebut) tanpa perlu merasa berhutang budi atas perbuatan orang lain tersebut bahkan malah cenderung selektif terhadap pemberian orang lain jika pemberian tersebut akan mengganggu idealismenya untuk menegakkan kebenaran.

Wallahu a’lam bishowab...
Lumajang, 10 Juni 2020

Terkenal di Langit



Di era disrupsi seperti saat ini menjadi terkenal secara instan sangat mudah dan mungkin. Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi terkenal mendadak. Akses internet yang mudah membuat kita mudah untuk menunjukkan eksistensi di setiap media sosial yang kita punya. Bukan lagi hanya sebagai hiburan semata tetapi sudah menjadi kebutuhan akan ekspresi dan apresiasi. Hingga kadang sudah tidak lagi memikirkan manfaat dan madhararnya demi eksistensi dan apresiasi rela membuat konten receh dan unfaedah. Tetapi bukankah konten-konten semacam itu yang diminati?

Belum lama ini di negara kita sempat viral seorang youtuber yang dituntut hingga berakhir mendekam di hotel prodeo. Apa pasal? Mereka melakukan prank kepada para waria dengan memberi bingkisan berisi sampah dan batu yang direkam dalam video, dan diunggah di akun yuotube mereka demi menaikkan angka like dan subscriber. Gila! Hanya karena ingin menaikkan jumlah subsbcriber banyak hal yang ditabrak hingga tak peduli lagi dengan akhlaq dan etika. Dan benar saja, tujuan mereka tercapai hingga akhirnya harus menelan pil pahit mendekam di penjara.

Menarik jika fenomena ini dibandingkan dengan sebuah kisah di zaman Rasulullah. Siapa yang tak kenal dengan sosok tabi’in terbaik bernama Uwais Al-Qarni? Beliau memang bukan sosok tabi’in yang hits dan viral di kalangan masyarakatnya. Tetapi siapa yang menyangka jika orang sesederhana beliau justru terkenal di kalangan penghuni langit  karena kesalehannya. Rasul pun menyebutnya tabi’in terbaik.

Dikisahkan bahwa tidak ada yang istimewa dari Uwais Al-Qarni. Dia hanya seorang penggembala unta, namun kesungguhannya dalam mempelajari Islam sebagai bukti cintanya terhadap agama yang diajarkan oleh Rasulullah. Kecintaannya kepada Islam dan Rasulullah memunculkan keinginan dalam dirinya untuk berjumpa dengan Rasul. Dia ingin menyusul Rasullullah ke Madinah dan ikut berjihad berjihad bersama Rasul. Namun, ia harus menahan keinginannya tersebab harus menjaga sang ibunda yang dalam keadaan buta. Ia pun memutuskan untuk merawat sang ibuda.

Mengetahui kecintaan sang anak kepada Rasulullah yang begitu besar, ibunda Uwais mengizinkannya untuk pergi menemui Rasulullah dengan memberikan sebuah pesan. Sang ibunda berpesan, jika hajat bertemu Rasulullah sudah tertunaikan, maka Uwais diminta untuk segera pulang. Qadarullah, sesampainya di Madinah Uwais ternyata tidak berjumpa dengan Rasul karena saat itu Rasul sedang berada di luar Madinah. Namun, karena teringat akan pesan sang ibunda ia pun segera kembali pulang demi baktinya kepada sang ibu.

Berita kedatangan Uwais ini sampailah kepada Rasulullah melalui wahyu. Dan inilah bukti bahwa Uwais Al-Qarni dikenal oleh seluruh penghuni langit. Hingga ia pun terkenal di kalangan para sahabat, meski tak berjumpa dengan Rasul hingga mati syahid di perang Siffin bersama Ali. Allah pertemukan ia dengan Rasul d surga-Nya.

Uwais adalah satu di antara kisah orang yang dikenal oleh penghuni langit tersebab kesalehan, kebaikan, dan berbakti kepada orang tua, serta kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Begitu indah ketika kita dikenal oleh penghuni langit. Siapa saja tentunya ingin terkenal di kalangan penghuni langit karena kesalehan dan kebaikan kita? Bahkan Allah telah memberikan kisah ini sebagai teladan bagi kita. Kita bisa dikenal oleh penghuni langit dengan syarat memantaskan diri hingga kita layak  menjadi hamba-Nya yang kelak dikenal penghuni langit.

Seperti Uwais Al-Qarni yang terkenal dengan kesalehan dan zuhudnya, Bilal bin Rabah terkenal karena selalu menjaga wudu hingga Rasul mendengar bunyi terompahnya di surga, Aisyah terkenal karena kesabarannya saat peristiwa haditsul ifki (berita bohong) yang menimpaya hingga Allah mengabadikan di dalam Al-quran. Dan banyak lagi kisah para sahabat Rasul yang terkenal di seluruh penjuru langit.

Cukup memantaskan diri dihadapan Allah, tak perlu banyak followers, viewers bahkan subscriber. Mudah-mudah kelak kita juga termasuk yang dikenal oleh penduduk lagit. Aamiin...

Wallahu a’lam bishowab...

Lumajang, 14 Juni 2020

Menjelang Lebaran di Temaran Kota Terserah




            Sejak H-6 menjelang Idul Fitri mall satu-satunya di kotaku mendadak seperti kehilangan kendali. Kepala-kepala manusia seolah menyembul tanpa ampun, berdesakan bercampur aroma cairan sisa eksresi ditambah beberapanya mulai mengabaikan protap kesehatan anjuran dari pemkab untuk sementara melakukan social distancing dan menggunakan masker. Pemilik mall mengaku tak bisa mencegah membludaknya pengunjung, sementara pengunjung mengaku tak enak kalau tak mengenakan baju baru di saat lebaran nanti. Serasa ada yang kurang, seloroh salah satu di antara gerombolan yang seolah sok tahu bahwa negeri sedang ini baik-baik saja. Sementara, di balik tembok bangunan putih kokoh itu terbaring pasien-pasien positif covid-19 bersama para tenaga medis yang rela meninggalkan keluarga, terpapar virus, dan meregang nyawanya demi menjadi bagian dari garda terdepan melawan virus corona, khususnya di kotaku tercinta. Terserah!
            Suasana kantor pos tampak seperti lautan manusia di siang terik itu. Bangunan kokoh sejak zaman Belanda yang tak seberapa luas kiranya hanya bisa menampung dua puluhan orang. Tapi hari ini mereka saling merangsek, sikut sana sini, berharap mendapat giliran pencairan dana BLT lebih dulu dan merasa dirinyalah yang paling butuh.   
“Biar bisa buat beli baju baru” Suara seorang ibu paruh baya pelan dibalik masker polkadot yang ia kenakan berbisik ke arah saya seraya mengedipkan mata. Sangat kontras dengan perhiasan yang tampak memenuhi setiap lingkar tangan dan jari-jemarinya. Terserah!
Pihak kantor pos kewalahan melayani warga yang hilir mudik bertanya kapan dana BLTNya akan cair. Padahal berkali-kali petugas yang berjaga meminta masyarakat membaca kembali jadwal pengambilan BLT yang sudah tertempel rapi di papan pengumuman. Sumpah, rasanya ingin teriak saja menghadapi  jiwa-jiwa yang haus pertolongan menengadah pada rupiah belas kasihan pemerintah. Haus atau rakus? Hanya beda tipis. Terserah!
“Oh negeriku, negeri antah berantah. Sampai kapan pertunjukan dagelan ini akan berakhir?” Protesku yang hanya termuntahkan di dalam hati saja.
            Di rumah, si sholih heboh menunjukkan video podcast seorang youtuber ternama. Menunjuk-nunjuk layar gawainya dan menyumpah serapahi si youtuber
            “Koq bisa sih buat konten seperti ini? Mikir nggak sih youtuber itu?”
            “Bukankah konten yang banyak mendapat like dan subscribe itu yang receh dan unfaedah?” Aku menanggapinya tak kalah sinis.
            “Iya sih, tapi ya nggak begitu juga Nda! Harusnya youtuber saat ini juga ikut memberikan edukasi kepada masyarakat luas tentang pentingnya menjaga diri dan bersama-sama melawan corona agar segera pergi dari negeri kita ini.” Ia mencoba beropini, terdengar sok dewasa di balik pemaparannya ini. Tapi aku suka.
            “Tak ada yang lebih penting dibanding jumlah subscriber, Le!” Aku menanggapinya ketus.
            “Iya nggak semualah youtuber berpikir seperti itu!” Ia membalasnya tak kalah ketus.
            “Tapi kenyataanya begitu.” Aku tak mau mengalah.
            “Terserah!” Sambil berlalu dari hadapanku.
            Ramadhan kali ini berbeda, lebih syahdu bahkan kebersamaan yang tercipta dalam ruang keluarga seolah otomatis menjadi mesin penghangat. Meski corona masih menjadi kambing hitam di mana-mana. Di kotaku, selama Ramadhan ini toko-toko dan pusat perbelanjaan harus tutup lebih awal, jam empat sore lebih tepatnya.
            Di awal malam Ramadhan itu, lampu-lampu jalanan tampak temaram, sebada isya’ kotaku seperti kota mati, tak bernyawa lagi. Tetapi, mendadak beberapa hari lalu seolah ada ledakan warga berkumpul dalam satu tempat, mall dan pusat perbelanjaan. Berburu baju lebaran katanya demi kesakralan Idul Fitri. Sungguh meresahkan. Terserah!
            Aroma selai nanas menguar dari celah jendela rumah tetangga bersama harmoni suara mixer dan denting lengser yang dikeluarkan dari oven. Tak ada yang berubah, di malam ke-27 ini dalam temaram kotaku sebagiannya terlihat berburu lailatul qadr, sebagiannya luruh dalam dengkur panjang tak berkesudahan, sebagian lagi sibuk mempersiapakan aneka pernak-pernik lebaran yang tak pernah akan mencapai titik kepuasan demi sebuah kepantasan.Terserah!
Hujan yang sejak siang mengguyur kotaku seolah tak menjadi penghalang para pemburu aneka rupa simbol perayaan Idul Fitri itu menghentikan petualangannya. Mereka rela menabrak aturan yang berlaku. Asal jaga diri dan kesehatan, apa pedulimu. Terserah!
Rintik hujan masih tersisa meski bayu mencoba mengambil alih, menyusup ke tiap rongga kehidupan manusia di kotaku yang temaram. Aku menengadah ke langit, mencoba untuk mencocokkan puzzle tentang tanda-tanda lailatul qadr dari berbagai referensi yang pernah  kubaca bertahun silam. Benarkah malam ini adalah malam yang dinantikan? Hingga suara ketukan kasar bersama ucapan salam dari seseorang  terdengar mengusik gendang telingaku.        
            “Assalamualaikum, Bun, Bunda saya bisa minta tolong?” Seorang Ibu dengan penampilan acak-acakan bertamu ke rumahku sambil tergopoh-gopoh.
            “Waalaikumussalam warahmatullahi wa baraktuh, monggo masuk dulu, Bu. Ada apa ini koq malam-malam? Apa yang bisa saya bantu?”
            “Ini Bun, anak saya nggak mau berhenti menangis. Barangkali Bunda berkenan ke rumah dan menenangkannya.”
            “Oh jadi begitu. Tetapi sebelum saya ke sana, saya butuh informasi tentang penyebab mengapa anak Ibu tidak mau berhenti menangis?” Sang Ibu kemudian bercerita dari awal hingga akhir tentang anaknya tadi.
***
            Melintasi gang-gang sempit, di antara harap dan cemas dengan langkah terseok mencoba untuk mempercepatnya. Hingga sampai di depan sebuah pintu rumah yang sudah merapuh terdengar suara tangis menderu-deru. Memekakkan terlinga siapa saja yang mendengarnya tak terkecuali wajah-wajah penghuni rumah yang mulai resah. Dan dialog pun akhirnya terjadi antara aku dan seorang anak berusia 5 tahunan itu.
            “Assalamualaikum, Mas Rama  ayo anak ganteng dan sholih cup cup sayang. Nanti kalau nggak cup ganteng dan sholihnya jadi hilang lho!” Sembari kuelus kepalanya.
            “Nggak, nggak mau, pokoknya aku mau dibelikan baju dulu!”
            “Lho itu bajumu sudah Ibu belikan, Le!” Sambil mengambil setelan baju dan menunjukkan ke sang anak.
            “Nggak, nggak mau!”
            “Rama maunya baju lebaran yang bagaimana, Le?” Saya kembali bertanya.
            “Yang kayak di tivi-tivi itu!”
“Yang kayak di tivi-tivi itu yang mana, Nak?”
“Yang kayak robot dan ada helmnya!” Kali ini tangisnya mulai mereda.  
            Sejenak aku tertegun, terbayang kostum APD para tenaga medis yang berjibaku hari-harinya di rumah sakit untuk melawan covid-19. Sejenak kubuka aplikasi youtube dan kutunjukkan sebuah video tenaga medis yang mengenakan APD.  Sontak Rama bersorak kegirangan, “Iya, aku mau beli baju kayak itu, Bu!” Sambil telunjuknya menunjuk ke arah gawaiku. Terserah!
Selesai


Lumajang, 27 Ramadhan 1441H

#inspirasiramadhan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-20















Total Tayangan Blog

Jejak Karya

Jejak Karya
Cinta Semanis Kopi Sepahit Susu adalah buku single pertama saya, yang terbit pada tanggal 25 April 2017 tahun lalu. Buku ini diterbitkan oleh QIBLA (imprint BIP Gramedia). Buku ini adalah buku inspiratif dari pengalaman pribadi dan sehari-hari penulis yang dikemas dengan bahasa ringan tapi syarat hikmah. Ramuan susu dan kopi cinta dari hati penulis ini menambah poin plus buku ini sangat layak dibaca bahkan dimiliki.

Bagian Dari

Follow by Email

Blogger templates

Blogroll

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *