Memasak Kapurung dengan Resep Cinta


Kapurung ala-ala bunda novi

Makanan khas bugis ini yang paling cocok di lidah Jawa saya. Tujuh bulan domisili di pulau Borneo paling utara, tepatnya di Kabupaten Bulungan yang sekaligus merupakan ibukota provinsi ini, membuat saya mengakrabkan lidah dengan beragam menu bugis yang mendominasi alternatif kuliner di sana.

Kapurung adalah satu di antara menu bugis yang mulai akrab di lidah. Meski beberapa masakan bugis lain seperti: mie titi, sop konro, sop bersaudara, cotto makassar, barobbo', dll seolah masih tertinggal dalam ingatan saya karena menu itulah yang hari-hari (terpaksa) harus saya nikmati, karena tak ada lagi, paling-paling lalapan khas Lamongan yang sesekali memenuhi daftar beli.

Memasak? Tentu saja saya memasak meski hanya sesekali itupun kadang menu-menu praktis ala-ala wanita karir sok sibuker yang seringkali lupa pulang dan makan. Hehehehe... Selain cocok dengan lidah Jawa saya, setiap kali saya tidak punya selera makan, kapurung menjadi alternatif makanan yang tidak tertolak, apalagi saat tak enak body dtambah tak enak ati. Gubraaak..

Kapurung ini juga rasanya seger, manis, asin, kecut, dan pedas perpaduan bumbu dan sayuran: kangkung, bayam, kacang, jantung pisang, dan jagung. Biasanya dinilmati bersama dengan sagu (pappeda-Jayapura) bukan nasi, lontong atau bubur. Membuat kapurung ini beda.

Oh iya, kali ini saya juga mau berbagi resep dan cara membuat kapurung ini lho.

Simak ya, berikut resep dan cara membuatnya.

Bahan-bahan (untuk 4 porsi):
  • 100 gram Tepung Sagu
  • 1 ekor Ikan Bandeng atau bisa diganti ikan lain
  • 2 ikat Sayur kangkung (bisa diganti dan ditambah asyur lain)
  • 1 buah Jantung Pisang (optional)
  • 1 liter Kacang Tanah
  • 100 gram Ikan Teri
  • 1 sendok teh Kunyit
  • 1 sendok teh Garam
  • 4 liter Air
  • 3 siung Bawang Merah
  • 4 siung Bawang Putih
  • 8 biji Cabai (Cabe) Rawit Hijau
  • 4 biji Tomat
  • 2 sendok makan Minyak Goreng
  • 1 bungkus Terasi

Langkah Pembuatan (45 memit): 


  • Rendam tepung sagu dengan air hingga air berada +/- 3mm diatas tepung sagu, diamkan. Sementara itu rebus 3 ltr air untuk menyiram sagu. (sagu disiram setelah semua bahan selesai diolah)
  • Masak Ikan: Tumis 2 siung bawang merah dan 3 siung bawang putih yang sudah dihaluskan/dipotong tipis, tambahkan kunyit, setelah harum, masukkan 900 ml air, tunggu hingga mendidih. tambahkan 1/2 sdt garam. Masukkan ikan, tunggu hingga ikan matang. Setelah matang, keluarkan ikan dari kuah, dan dinginkan, pisahkan tulangnya, haluskan dengan cara ditumbuk.
  • Masak sayuran Didihkan 500ml air, masukkan irisan bawang merah dan putih. setelah mendidih, masukkan sayuran dan tomat utuh.. Setelah matang pisahkan dengan kuahnya. campurkan kuah sayur dan kuah ikan. Diamkan hingga suam-suam kuku..
  • Rebus jantung pisang yang telah dipotong-potong kasar hingga matang, tiriskan.. buang airnya. setelah agak dingin, haluskan (ditumbuk), tapi jangan terlalu halus.
  • Sangrai kacang dan ikan teri secara terpisah. Pisahkan kacang dengan kulit merahnya. Tumbuk kacang dan ikan teri. Jangan terlalu halus.
  • Bakar terasi hingga matang, jangan sampai hangus. Tumbuk dengan tomat yang telah direbus.
  • Buang sebagian air pada rendaman tepung sagu.. aduk rata tepung sagu yang sedikit mengeras sampai mengental (tercampur rata). Kekentalan yg baik ketika sendok diangkat, sagu yg jatuh tidak terputus2. Seduh dengan air mendidih. Air mendidih jangan langsung diseduh semua, tapi secara perlahan agar bisa dilihat kekentalan pada sagu. Segera diaduk +/- 15 menit. aduk cepat. *hentikan menyiram jika sagu sudah berwarna agak transparan dan warna putih dari sagu tinggal sedikit di bagian atas.
  • Ambil wadah kuah dari ikan dan kuah sayur.. - Gulung2 sagu dengan bantuan sumpit (diputar-putar), dan masukkan kedalam campuran kuah diatas. Lakukan hingga adonan sagu habis. - Masukkan ikan teri dan kacang yang telah ditumbuk. - Masukkan tomat yang telah ditumbuk bersama terasi. - Masukkan ikan yang sudah ditumbuk, - Masukkan jantung pisang yang telah ditumbuk, dan terakhir masukkan sayuran.
  • Hidangkan dengan cabai rawit yang telah ditumbuk dan berikan sedikit perasan jeruk nipis.
  • Tambahkan secukupnya perisa cinta dalam setiap sajiannya.

Selamat mencoba ya...selanjutnya, pliss tinggalkan komen setelah baca postingan ini. Terima kasih.



Panggil Aku Yudi (Sebuah Refleksi tentang LGBT)

Gambar diambil dari mesin pencarian google 

Sudah pernah baca buku saya? Bagi yang sudah, barangkali tak asing dengan kisah ini. Bagi kalian yang belum, buruan gih beli dan baca ya.

Pada judul Panggil Aku Yudi saya bercerita tentang seorang sahabat lama saya yang tetiba saja atas takdirNya kami dipertemukan kembali di waktu dan tempat yang tak pernah kami duga. Ini adalah bagian dari sedikit cuplikan dari kisah Yudi. Next, saya terinspirasi untuk menuliskan kisahnya dalam bentuk novel. Mohon doanya ya, in sya Allah semoga cita-cita ini terijabah. Aamiin...Sekarang simak dulu ya tulisan ini, minimal sedikit menjadi pencerahan terkait isu yang sekarang sedang ramai diperbincangkan. 



Panggil Aku Yudi

Petang itu, saat bersantai di ruang tamu, tiba-tiba ada seseorang yang datang. Sosoknya yang asing dengan masker di muka membuat kami ragu untuk menghampiri sosok misterius itu. Seorang ibu-ibu. Sosok yang sudah berdiri tegak di depan pagar rumah dengan suara lembutnya yang serak-serak basah.

“Assalamu’alaikum... maaf mau numpang tanya rumah Pak S di mana, ya?”

Sontak kami yang sedang bercengkerama terhenyak dengan tanyanya yang mendadak membuat kami terpaksa harus melangkah keluar rumah. Saya yang masih enggan beranjak, hanya melihat sosoknya dari balik kaca.

Pak Lek yang menemuinya jelas saja tak mengerti karena ia pemudik yang dalam waktu singkat singgah di rumah. Sang sosok misterius masih melanjutkan tanyanya, kali ini lebih detail tentang sosok most wanted yang sedang ia cari.

Gemas dengan jawaban Pak Lek, saya pun bergegas dan beranjak menemui sosok misterius itu. Baru saja saya hendak memberikan penjelasan tentang seseorang yang ia cari, mendadak ia menyapa saya dengan ramah sambil membuka masker yang sedari tadi sukses menutup wajah tampannya. Eh, ternyata ia seorang laki-laki. Bukan ibu-ibu seperti dugaan saya di awal tadi.

“Mbak Novi, ya? Saya Yudi, Mbak? Masih ingat dengan saya, Mbak?” tanyanya dengan logat khas Melayu.
Sontak, saya melongo mencoba untuk membuka file ingatan saya tentang sosok Yudi yang ia maksud.

“Yudi?” pekik saya singkat, sambil terus mencoba mengingat-ingat.
“Iya Yudi, Mbak. Ini Yudi, bukankah kita pernah berkawan?” cerocosnya tanpa jeda sambil mencoba meyakinkan saya dengan sebuah ingatan tentangnya yang sudah mulai pudar.

“Subhanallah... Yudi? Yudi si Penari Ular itu?” serasa ada kelegaan luar biasa saat bisa teringat akan sosok Yudi yang ia maksud.

“Ya Allah Yudi, gimana kabar? Ayo, masuk dulu, Yud. Kita ngobrol di dalam saja, ya?” ajak saya untuk memecah kebekuan yang sejenak tercipta di awal perjumpaan kami tadi.

Flash Back....
Sore itu, kami bertujuh sedang disibukkan dengan latihan persiapan untuk performance di sebuah acara bergengsi zaman itu. Panggung Mustika TVRI, siapa yang tak gandrung dengan acara yang selalu ditunggu-tunggu di setiap pekannya oleh masyarakat se-Indonesia Raya, terutama anak-anak seusia saya. Hehehee...

Yudi, saya mengenal sosoknya karena ia adalah salah satu dari tujuh orang yang akan tampil itu. Kala itu, kami bertujuh. Awalnya kami berenam, tetapi kemudian Yudi masuk dalam tim kami. Waktu itu, pembina sanggar kami memasukkan Yudi karena ia mempunyai point plus.

Kemahirannya dalam kayang dan gemulai tubuhnya saat ngedance membuat tim kami tampak lebih berwarna. Tapi, yang menjadi tanda tanya besar dalam benak kami masing-masing adalah ia seorang laki-laki. Hampir semua anggota tim keberatan dengan masuknya Yudi dalam tim. Mereka kasak-kusuk di belakang pembina kami untuk melakukan aksi boikot.

Saat itu, saya yang paling tua di antara mereka mencoba untuk menggajak dialog teman-teman, termasuk Yudi. Bahkan, meskipun mereka kerap hadir latihan, Yudi masih menjadi sosok aneh yang seringkali diabaikan oleh teman-teman, hanya saya yang mencoba untuk mengajaknya bicara.
Sampai suatu hari, pertanyaan dari seorang kawan sukses membuat butiran bening dari mata redupnya mengalir deras membasahi pipi tirusnya.
Ya, Yudi menangis. Ia bersembunyi di balik tembok kokoh sebuah bangunan TK dekat toilet.

“Pak, Pak, nanti waktu tampil Yudi pakai kostum apa? Tetap jadi laki-laki atau perempuan?” tanya salah seorang di antara kita dengan lugunya.
“Ya... jadi perempuanlah. Nanti Yudi pakai rok.” Jelas pembina saya yang bernama Pak S itu disertai dengan tawa.
“Pakai rok? Yudi pakai rok? Hahahaha.... Yudi pakai rok rek!” Pekiknya dengan nada mengejek, tetapi sukses membuat semua tertawa. Lebih tepatnya menertawakan Yudi yang bergeming saat itu. Ada kesedihan di bola matanya yang sendu.

Sejak saat itu, kami mulai dekat. Entahlah, saat Yudi berlari menjauh dan memilih untuk menyembunyikan laranya, kaki saya juga seolah turut mengikuti dan ingin mengajaknya berbagi kesedihan yang ia rasakan.

Saat itu, saya mencoba belajar mengerti dan memahami posisinya. Menjadi penari ular memang bukan pilihannya, karena latar belakang keluarga yang broken home, kedua orangtuanya divorce, ia terpaksa (lebih tepatnya, maaf dipaksa) oleh keadaan untuk mencari nafkah dengan cara demikian. Hanya itu ketrampilan yang ia punya saat itu, seorang remaja usia kelas 1 SMP yang sedang berproses pencarian jati diri, kemudian krisis identitas atas eksploitasi dari pihak yang tidak bertanggung jawab.

Cantik, bulu matanya tebal,  jari-jemarinya lentik, serta gerakan tariannya yang lemah gemulai saat musik dimainkan tak ada yang mengira bahwa ia adalah seorang pria. Laki-laki tulen.

Hingga petang, ingatan itu kembali terkuak. Yudi yang ada di hadapan saya sekarang adalah Yudi yang sudah berusaha untuk menjadi lelaki tulen, meskipun sesekali ia akui kadang-kadang kebiasaan melambainya tiba-tiba hadir secara spontan.

Sebelas tahun ia merantau ke negeri Jiran, kisah hidupnya cukup dramatik. Dari lisannya ia bercerita dengan penuh hikmah, atas segala ujian hidup yang harus ia jalani, masa lalunya yang sempat ia lalui masuk ke lembah hitam, bergaul dengan para LGBT, menjadi anggota sekaligus aktivis membuat ia sadar bahwa hidup ini hanya sebentar. Di akhir ceritanya, ia berpesan bahwa ia ikhlas atas semua ujian hidup ini, asal ia tidak di azab kelak di akhirat nanti.

Tanpa kata, saya bisa merasakan bahwa ada kesungguhan dari tatap matanya yang berenergi, dari kemantapannya menyebut nama Yudi. Doaku mengiringimu Yudi, semoga kau beristiqomah untuk meraih cinta-Nya, hingga beroleh khusnul khotimah. Amin.

Lumajang yang beku, 2 Syawal 1437 H

*Ditulis pada 10 Syawal 1437 H, setiap perjumpaan sejatinya Allah hendak memberikan hikmah di dalamnya, semoga kita semua termasuk orang-orang yang senantiasa berpikir.


Sandal Jepit


Foto diambil dari google 

Aku adalah seorang petualang karena aku suka tantangan, walaupun sebenarnya hidupku penuh rintangan. Sejak aku dilahirkan, nasib baik seolah-olah enggan untuk datang pun hanya sekedar berkenalan. Hingga usiaku saat ini menjelang 20 tahunan, tak kunjung kutemukan keberuntungan.

“Nasib... nasib...", batinku diam-dian kemudian. Entahlah, aku berharap ada sebuah perubahan ya... sebuah perubahan besar dalam kehidupan.

Babak baru segera dimulai. Keberuntungan pertama, aku lolos tes masuk sebuah PTN ternama di Jawa Timur yang mungkin buat sebagian orang itu hal wajar. Tetapi, tidak buatku. Hari-hariku kumulai dengan hidup dan semangat baru di sebuah kampus biru.
Keberuntungan berikutnya, aku berjumpa dengan seseorang baik hati. Dia yang mengantarkanku hingga sampai di sini, menjadi ta’mir sebuah masjid kampus yang asri. Dia tak pernah kukenal sebelumnya, tetapi wajahnya yang teduh seolah-olah aku pernah mengenalnya.

Entahlah, mungkin itu hanya imajinasiku saja. Atau..., memang sengaja aku dipertemukan olehNya. Selanjutnya, aku lebih suka menyebutnya lelaki bermata surga.

Sejak saat itu, aku pun mulai percaya bahwa aku akan berubah dan bisa berubah menjadi orang yang dikelilingi keberuntungan. Kuhapus semua memori menyakitkan di masa lalu, tepatnya tentang semua nasibku. Kususun kembali puing-puing harapan, cita-cita, dan mimpi-mimpiku tentang masa depan yang sempat terpuruk di reruntuhan keputusasaan.

***
“Hidup Joko!...maju terus, Jok!” Sorak sorai Aremania memekik, mengharu biru menambah gegap gempita gelanggang olah raga Tambak Sari Surabaya menyambut kemenagan Arema atas Persebaya setelah sang ‘backer’ – Joko Suryanto- berhasil membobol gawang persebaya dengan perolehan skor 1-0.

Aku, Joko Suryanto, seorang ‘backer’ Arema hari ini melangkah pasti dengan kaki berbalut ‘adidas’ asli bukan tiruan yang baru kubeli sebulan lalu dari hasil royaltiku selama menjadi ‘back’ di Arema.

“ Prestasi yang sungguh mengagumkan!, lagi-lagi aku menjadi bintang lapangan”. Aku bergumam sendiri tanpa seorang pun bisa mendengar.Ada perasaan dan getar yang kurasakan di sini. Di dada ini. Tepatnya, di dalam hati ini.

“Ayo!...ayo Arema!, hari ini kita sudah menang!”. Lagi-lagi Aremania tak henti-hentinya meneriakkan yel-yel kebanggaannya. Aku pun tersadar ketika tiba-tiba kaki ini tak lagi menginjak tanah. Karena aku kini dipanggul oleh salah seorang suporter Aremania.

Baku hantam antar suporter tak lagi dapat dihindarkan. Aku pun kini berada di antara kerumunan masa.

***
“Maaf Pak, hari ini bapak ada dua agenda yang harus dikerjakan. Pertama, agenda rapat dengan dewan komisaris pagi ini sebelum ‘lunch’. Berikutnya, tepat setelah rapat berakhir, anda harus segera menuju ruang lobby hotel Hyatt, tepatnya di lantai sembilan untuk menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan interior asing dari Perancis. Cukup itu saja agenda bapak hari ini, kecuali kalau bapak berkenan mengajak saya makan malam nanti. Bagaimana, Pak? Perlu di agendakan?”. Mery, sekretarisku itu selalu saja bersikap seperti itu setiap mengingatkan agenda kerjaku. Seperti hari ini, tak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Tetap genit dan selalu cari-cari perhatian dan kesempatan.

“Baiklah, tolong nanti saya di ‘calling’ lagi ya?”, aku mencoba untuk bersikap wajar kepadanya. Seperti biasa, dingin...
Sebelum rapat dengan dewan komisaris nanti, pagi ini aku ingin sekali meregangkan syarafku untuk sekedar bersantai di ‘coffeshop’. Kulangkahkan kakiku yang berbalut ‘osh cosh’ yang baru kubeli tiga bulan lalu saat aku jalan-jalan ke Jepang dengan ringan meninggalkan Mery sekretarisku yang tetap berdiri bengong di hadapanku untuk menuju ‘coffeshop’.

‘Historia De Lin Amor’ mengalun dengan syahdu. Romantis dan ekslusif. Ditambah dengan interior ‘lighting’ yang tak terlalu terang. Tak lama kemudian, syarafku sudah mulai renggang, setelah sempat tegang karena semalaman aku lembur untuk menyelesaikan proyek penanggulangan sampah kota yang mulai meresahkan masyarakat dengan membuat sebuah alternatif desain ‘real estate’ ramah lingkungan yang tentunya dengan harga terjangkau di pasaran. Selain itu, hari ini aku juga harus menghadap dewan komisaris. Lengkap sudah penderitaanku. Tapi jujur, aku sangat menikmati.

***
Awan yang sedari tadi tampak tersenyum, kini bersedih. Seketika mendung hadir menyelimuti. Pemilik siang tak kuasa menolak keinginan sang Khaliq tuk segera memenuhi kewajibannya. Titik-titik air hujan pun kemudian menari-nari, tariannya mampu membasahi pelosok negeri.

Aku yang sedari tadi duduk bersandar dan melamun di beranda masjid kampus segera tersadar. Di tengah-tengah kantuk berat yang kurasakan, teriakan seseorang yang suaranya tak asing lagi kudengar membuat aku langsung terbangun tanpa terjaga. Seseorang itu tidak lain dan tidak bukan, sahabatku lelaki bermata surga itu.

“Woiiiiiiiiiiiiiiiii!.....banjir!....banjir!, cepat selamatkan sandal-sandal dan sepatu-sepatu itu! Cepaaaaaat!”
“Joko!, Joko kamu dimana? Ayo cepat bantu aku , Jok! sebelum semuanya terbawa air”.
Tetapi, sungguh terlambat. Berpasang-pasang sepatu dan sandal ber-merk itu sudah terbawa arus air yang memang sangat deras. Hanya satu yang terselamatkan, sebuah sandal jepit usang berwarna merah yang sangat ku kenal. Ya..., sandal jepit itu milikku. Tak salah lagi, itu punyaku...
“Ya, Allah ...ya robb”. Pekikku kemudian,segera kupungut sandal jepit merah usang itu.

Aku kembali menangis, ketika lelaki bermata surga itu menghampiriku. Ia menyodorkan tiga lembar dua puluh ribuan kepadaku sebagai imbalan kerja kerasku selama sebulan menata sepatu dan sandal di masjid kampus. Seketika sekelebat bayangan bapak yang sedang mengayuh becak di kampung melintas di depanku, disusul kemudian emak. Dengan tangan keriputnya ia tetap terjaga dalam tidurnya untuk tetap bertahan menjadi seorang buruh cuci demi kelangsungan hidupnya. Sementara aku,....sudahlah aku tak mau melamun lagi.

SELESAI

*cerpen zaman old yang pernah saya tulis kala itu...




Rumah Baca Pelangi (Rumah Berbagi Manfaat dan Inpirasi)




Assalamualaikum bunda sholihah perindu surga,

Hari ini tetiba saya ingin bercerita tentang sebuah rumah baca yang pernah saya dirikan pada awal tahun 2014 yang lalu. Rumah Baca Pelangi, begitu saja saya spontan memberi nama dan baru kemudian baru mencari makna filosofinya.
Rumah Baca Pelangi atau RBP biasa anak-anak di sekitar rumah menyebutnya.

Dari RBP ini kemudian menjadi rumah kedua bagi anak-anak menumpahkan segalanya. Bahkan keluh kesah sekalipun, seolah rumah ini tak pernah sepi dari aktifitas berbagi apa saja. Hingga dari sinilah kemudian inspirasi itu selalu berdatangan untuk kami sambut menjadi sebuah program kemanfaatan.

Cita-cita Lama yang Baru Tereksekusi 

Memiliki sebuah rumah baca sederhana di rumah sendiri adalah cita-cita saya sejak lama. Tetapi cita-cita ini kemudian menguap begitu saja tanpa eksekusi nyata. Kesibukan mengajar adalah kambing hitam untuk alasan mendasar dari tidak terealisasinya cita-cita ini. Hingga tumpukan buku-buku yang tak lagi muat dalam lemari menambah semangat saya kemudian berkobar lagi. Ditambah kondisi saya yang saat itu baru resign dari sebuah sekolah dasar swasta di Malang tersebab harus menjalani operasi pasca tragedi kecelakaan yang saya alami.


Penampakan Rumah Baca Pelangi sebelum acara pembukaan 





Meringkuk di atas kursi roda, berangsur saat mulai menjalani fisioterapi hingga kemudian diperbolehkan menggunakan kruk sebagai alat bantu untuk melatih kaki saya secara bertahap agar bisa berjalan lagi. Sugguh, masa-masa ini adalah masa-masa membosankan yang pernah saya alami dalam kehidupan saya. Terbiasa beraktifitas di luar rumah membuat saya mengalami 'stress' luar biasa saat harus mendekam di dalam rumah. Kegiatan sehari-hari hanya seputar 3K (Kamar Tidur, Kamar Mandi, dan Kamar Makan) saja, tak lebih. Tetapi saya tak pernah menyesal pernah berada pada fase ini, terus berusaha melangitkan syukur atas segala limpahan nikmat yang telah Allah beri. Energi itulah yang kemudian membuat saya bangkit dari keterpurukan dan kesedihan atas skenario Allah ini untuk kemudian bergerak memberikan kemanfaatan sebelum terlambat. Hingga kemudian, tercetuslah ide untuk membuka rumah baca untuk anak-anak di sekitar rumah orang tua saya.

Dari Tumpukan Buku Hingga Keresahan Terhadap Lingkungan Tempat Tinggal









Selama pindah dari rumah kontrakan pertama sampai pindah ke rumah sendiri saat masih berkeluarga di Malang dulu, barang yang paling dominan adalah buku.
Keberadaannya dari hari ke hari bukannya berkurang, sebaliknya terus bertambah. Pun saat harus boyongan ke rumah orang tua yang ada di Lumajang, hampir satu kendaraan sendiri isinya hanya buku. Seperti biasa orang rumah selalu mengusulkan untuk dibawa ke tukang loakan untuk dijual karena tempat tak lagi muat untuk menampung semua buku-buku koleksi saya dan almarhum suami saya itu.

Dari sini kemudian saya berpikir untuk membukan rumah baca agar kemanfaatannya bertambah. Untuk masalah tempat (rak buku) yang memang yang masih terbatas saat itu, tiba-tiba saja terbersit untuk membuat sebuah proposal pengajuan bantuan dana untuk rumah baca ini. Alhamdulillah, solusi ini pun bisa teratasi hingga beberapa  donatur dari teman-teman lama bisa saya dapatkan dengan saya menyebarnya melalui sosial media.




Lagi-lagi ide ini selain karena tumpukan buku yang saya inginkan termanfaatkan dibalik itu saya juga punya alasan kuat kenapa saya begitu semangat untuk membuka rumah baca di sekitar lingkungan rumah orang tua saya. Hanif, putra semata wayang saya yang saat itu berusia 6 tahun hari-hari berinteraksi dengan anak-anak kampung yang sangat beda dengan kondisi anak-anak di rumah tempat tinggal kami di Malang yang notabene adalah sebuah kompleks perumahan dengan latar belakang orang tuanya rata-rata berpendidikan.

Sebaliknya, di lingkungan baru ini si sholih, begitu selanjutnya saya menyebutnya tidak bisa kemudian kita sterilkan (kurung di dalam rumah) untuk tidak berinteraksi dengan anak-anak sekitar. Sementara, saat berinteraksi, banyak hal baru bahkan kosa kata baru yang tak layak diucapkan anak seusianya kemudian menjadi hal biasa yang ditiru oleh si sholih saat itu. Astaghfirullah...

'Ujug-ujug' mendatangi si anak dan menasehati untuk satu dua kali mungkin adalah cara yang bisa ditempuh meski tak bisa ampuh bertahan di benak anak-anak. Hingga dari sinilah kemudian saya sangat bersemangat untuk segera merealisasikan cita-cita lama saya agar menjadi kenyataan. Dreams come true...

Setelah mempersiapkan segala sesuaty termasuk proses perizinan ke ketua RT dan RW akhirnya rumah baca siap dibuka. Dan kami memberi nama Rumah Baca Pelangi.

Rumah Berbagi Manfaat dan Inspirasi 


Bapak Kukuh selaku seklur meresmikan pembukaan RB


Alhamdulillah, rumah baca pelangi yang diresmikan oleh bapak sekretaris kelurahan saat itu berjalan dengan lancar dan menggembirakan. Rangkaian acara baksos kesehatan, sulap sains, dan aneka games kami suguhkan tak hanya untuk anak-anak tetapi orang tua meraka pun turut kita undang.




Hingga kemudian saya tak sengaja menemukan inspirasi dari nama pelangi yang spontan saya sematkan sebagai nama rumah baca ini. Ya, pelangi berarti perbedaan dimensi warna yang kemudian menghadrikan keindahan. Begitu pula dengan rumah baca pelangi, saya berharap bahwa kelak akan menjadi rumah bagi siapa saja tak peduli tingkat sosial, suku dan agamanya. Tetapi dari sinilah kemudian kami akan melahirkan keindahan dari pribadi-pribadi anak negeri. Dan demi cita-cita ini tentu saja akan diwarnai perjuangan dan pengorbanan.

Hingga sebulan pasca RBP ini diresmikan dari hari ke hari jumlah anak-anak yang berkunjung makin berkurang. Perjuangan pun dimulai. Menjemput mereka satu-satu ke rumah masing-masing pernah saya lakukan. Hingga memberikan program bimbel mapel gratis dan acara-acara insidental yang menarik minat mereka di hari libur seperti sains club, cooking class, lomba cerdas cermat kemudian membuat anak-anak semakin merasakan manfaat dari RBP ini. Pun saya, hari-hari saya selalu penuh keceriaan membersamai mereka. Celoteh khas anak-anak begitu saya rindukan sama seperti lima tahun yang lalu saat saya masih mengabdi menjadi seorang pengajar di sebuah SD Islam swasta di Kota Malang. Dalam hati saya berdoa, semoga ke depan RBP ini semakin memberikan manfaat dan inspirasi.







Penampilan yang Memukau dari Anak-nak RBP Saat Gelaran Pentas Seni Kemerdekaan RI

Selain perjuangan, selanjutnya pengorbananpun dimulai. Hal ini berawal dari mengakomodir keinginan anak-anak yang ingin tampil di acara pentas seni tingkat RW. Miris terkadang melihat seusia mereka disuguhi pertunjukan yang tidak ramah anak. Sebenarnya ide untuk menyampaikan uneg-uneg ini sudah sejak lama saya pendam untuk kemudian saya coba sampaikan secara baik-baik ke pak RW beserta alternatif solusi pertunjukan yang juga sudah saya siapkan. Dan alhamdulillah, masukan saya diterima. Selanjutnya saya kemuduan diminta untuk mengawal panitia acara sekaligus melatih anak-anak. Masya Allah...laa haula walaa quwwata illah billah...

Dan inilah di antara dokumentasi penampilan anak-anak kami yang bertajuk operet anak "Aku Cinta Idonesia."


Duet maut Tansah Sinawang Sakinah dan M. Nasyid membawakan puisi Tanah Surga


Performance closing diringi lagu Gebyar-gebyar karya alm. Gombloh








Dari Warung Sinau Urip Hingga Liburan Penuh Warna 

Berbagai program rumah baca alhamdulillah sangat diminati bahkan diluar anak-anak pengunjung tepat RBP pun ikut berpasrtisipasi meramaikan setiap program yang kami adakan.

WSU (Warung Sinau Urip)







WSU ini saya gagas karena melihat potensi anak-anak yang luar biasa untuk menghabiskan uang saku yang mereka dapat dari para orang tua. Karena alasan inilah saya kemudian mengajak mereka untuk melakukan gerakan mengelola uang saku dengan program WSU ini. Dengan tujuan untuk:
1. melatih anak-anak tentang arti kerja keras,
2. melatih anak-anak agar terbiasa berhemat dengan belajar mengelola uang saku,
3. melatih anak-anak belajar berwirausaha
sejak dini,
4. melatih anak-anak untuk lebih selektif untuk memilih jajanan sehat.

Dari keempat tujuan tersebut tentu saja tidak serta merta menjadikan mereka berbalik 180 derajat menjadi sesuai dengan tujuan yang ingin kita capai. Tetapi bertahap poin per poin tersebut pada akhirnya pelan-pelan bisa kita ingatkan dalam forum bimbel gratis maupun cerita berhikmah saat ada acara-acara PHBI seperti Maulid nabi dan PHBN seperti saat memperingati hari kemerdekaan RI.


Training Motivasi Sukses UN Tanpa Stress



Acara ini kami gagas untuk memfasilitasi anak-anak RBP dan beberapa anak-anak di luar RBP.  Kami waktu itu harus keliling ke sejumlah SD Negeri yang ada di sekitaran Kota Lumajang untuk menwarkan program ini. Kami berpikir sayang saja kalau program sebagus ini tidak dinikmati juga oleh adik-adik diluar anak-anak RBP yang jarang sekali di sekolab mereka mendapatkan program motivasi seperti ini.

Alhamdulillah, apresiasi terbaik dari beberapa SD Negeri seperti SDN Tompokersan 3 (SD saya dulu, hihihi), SDN Citrodiwangsan 1 dan 3. Meraka hampir menyumbangkan anak-anaknya untuk hadir sebagai peserta. Alhasil, 100 peserta yang kami targetkanpun alhamdulillah terealisasi dengan sempurna bahkan lebih.

Lagi-lagi agenda RBP disupport oleh lemsosnas  pkpu.org yang memiliki kantor cabang pembantu di Lumajang. Berkat
PKPU kegiatan-kegitan RBP berjalan dengan lancar. Terima kasih PKPU.


Liburan Penuh Warna (LPW) yang Seru










Satu lagi program RBP yang nggak kalah seru dengan program-program yang lain. Masih kerja bareng lemsosnas pkpu.org acara ini memfasilitasi kegiatan liburan adik-adik agar tidak monoton. Apalagi di era digital seperti saat ini, mayoritas anak-anak kita sudah dijajah oleh gawai. LPW memberikan alternatif solusi agar liburan anak-anak lebih bergizi.

LPW ini juga diperuntukkan bagi peserta yatim dhuafa. Mereka para anak-anak kurang beruntung tersebut bisa mengikuti LPW secara free tanpa biaya. Dan lagi-lagi support untuk anak-anak yatim dan dhuafa ini langsung dicover oleh pkpu.blogspot.com. Alhamdulillah, semakin banyak yang merasakan kemanfaatan dari program LPW ini.






Galeri Foto

1. MAULID NABI






2. GRUP PERKUSI





Selesai


Tulisan ini diselesaikan di Lumajang, 31 Januari 2018. 

Next cerita Bagaimana nasib RBP dalam satu tahun ini? 

Mencicipi Nasi Punel, Kuliner Khas Bangil

Kata orang, tak afdhol jika berkunjung ke Bangil, jika tak menikmati sajian kuliner khasnya. Apa lagi kalau bukan nasi punel.

Baiklah. Saya akan mulai bercerita.

Hari ahad kemarin,saat kami sedang melakukam perjalanan untuk menghadiri acara organisasi kepenulisan di Surabaya, karema kami berangkat dari rumah pukul 03.20 dini hari membuat perut kami merengek-rengek di awal pagi.

Saat melintasi sebuah pasar di daerah Wonoasih, Probolinggo. Romantisme pasar yang baru saja buka, membuat saya tiba-tiba menelan ludah. Membayangkan aroma ketan hangat dengan taburan parutan kelapa dan aroma wangi bubuknya yang menambah selera. Tanpa babibu, saya pun kemudian menyampaiakan keinginan saya untuk menyantap ketan pagi itu. Seketika salah satu teman yang juga menjadi pengemudi mobil taruna yang kami kendarai, menawarkan untuk sarapan nasi punel yang sudah sangat fenomenal. Hanya saja, saya diminta agar sejenak bersabar. Karena nasi punel ini adanya di daerah Bangil, Pasuruan. Demi rasa penasaran yang memuncak kepada nasi punel yang disebut, akhir cerita saya pun menelan kembali dalam-dalam keinginan untuk menyantap sajian ketan di pagi hari. Oke, baiklah kali ini saya akan coba ikut tawarannya.

Sesampainya kami di tkp ada perasaan terkejut menyelimuti meski tak seberapa. Hanya kemudian mulut saya seketika membulat dan hanya bisa berucap, "oh ini?" Selanjutnya, memilih mengamati sajian aneka menu dan lauk pauk pendampingnya. Sambil menunggu penjual yang masih mempersiapkan segala sesuatu, karena warung baru saja dibuka. Tetiba lamunan saya buyar saat mbak penjual bertanya mau makan apa kami bertiga. Spontan kami menjawabnya sama. Hehehe...memang kompak ya, apalagi kalau untuk urusan makanan.

Salah seorang di antara kami yang sudah biasa berkunjung pun kemudian bertanya lauk apa yang akan kami pilih sembari menjelaskan sekilas apa saja pendamping nasi punel selain lauk yang nanti kami pilih. Maklumlah kami berdua memang baru pertama kali berkunjung ke warung nasi punel ini. Jadinya butuh guide untuk menjelaskan pilihan lauk pauk yang kira-kira cocok di lidah dan di dompet kami.

Akhirnya, kami berdua memutuskan melihat penampakan dari nasi punel yang dimaksud. Jelas saja. Setelah kami tahu penampakannya yang ternyata tak sekedar nasi 'nyel' (saja) sebaliknya (bisa dilihat penampakannya di foto yang tertera).
Ya, jadi nasi punel itu nasi putih yang dicetak mirip tumpeng mini gitu, dihidangkan di atas piring yang sebelumnya diberi alas daun. Di atasnya ditaburi serundeng (kelapa yang telah diparut, diberi bumbu, dan dikeringkan dengan cara digoreng), ditambah sayur rebung bumbu kuning, ditambah potongan kikil, tahu bumbu bali, mendhol mini (olahan tempe yang dibentuk bulat-bulat setelah dihancurkan dan dibumbui), bothok kelapa parut yang dengan gula merah, ditambah sambel yang puedesnya endes dilengkapi rajangan lalapan kacang panjang (seperti pada olahan makanan sayur terancam orang Jawa menyebutnya demikian).

Melihat penampakannya yang full lauk itu, akhirnya terpilihlah sate telur puyuh sebagai lauk pelengkap dan cukup satu tusuk saja. Kuatir, jika tidak sesuai di lidah saya, nanti malah mubadzir ndak habis kemakan semuanya. Kan jadinya sayang.

Dan...setelah menyantapnya apa pendapat saya tentang kuliner khas Bangil ini?

Pertama, nasi punel ini memiliki citarasa yang cenderung manis. Bagi kalian penyuka masakan manis pasti cocok di lidah kalian.

Kedua, nasi punel ini memiliki bumbu yang sangat kuat. Terutama di pada kuah kuning sayur rebung, cita rasa kunyit saya rasakan sangat kuat terasa di lidah saya.

Ketiga, dengan lauk pendamping yang sudah legkap sebenarnya meski tanpa menambah dengan lauk pendamping lagi menurut saya sudah sangat cukup pas dengan takaran nasi satu porsinya.

Untuk harga? Nah, karena kemarin ternyata saya ditraktir, jadi saya malu bertanya berapa harga nasi punel itu sebenarnya.

So, untuk kalian pecinta kuliner dengan cita rasa makasan yang cenderung manis? Nasi punel khas Bangil dari warung Setia Budi ini layak untuk di coba. Informasi tentang apa itu nasi punel, bagaimana memasaknya, dll. Bisa kamu dapatlan di blog yang lain. Karena banyak sekali blog yang mereview tentang nasi punel ini.

Ingat bangil, pasti nasi punel setia budi.

Lmj, 29 Januari 2018

Semangat Baru Dakwah bil Qalam dalam Mukerwil 1 FLP Jatim




Ahad, 28 Januari 2018 adalah momen istimewa bagi kami para pengurus FLP wilayah Jatim. Apa pasal? Karena hari itu kami telah melaksanakan sebuah perhelatan keorganisasian yang pertama bernama Musyawarah Kerja Wilayah 1 FLP Jatim.

Mukerwil yang dihadiri sekitar 15 orang dari 20an jumlah seluruh pengurus ini berlangsung dari jam 09.00 sampai dengan jam 16.00 WIB, bertempat di salah satu hotel syari'ah di kota Surabaya: Hotel Andita.

FLP Surabaya Tuan Rumah yang Ramah 


Sambutan Ketua Pelaksana


Sebagai tuan rumah mukerwil 1 FLP Jatim ini, FLP Surabaya memberikan best service kepada kami para pengurus wilayah yang tergabung dalam Kabinet An Nahl periode 2017-2019. Hal ini tampak dari mulai awal kami hadir hingga kembali pulang disambut dengan ramah dan hangat oleh para panitia.

Memilih Surabaya menjadi tuan rumah bukan tanpa sebab, sebagai ibukota propinsi Jawa Timur, Surabaya dianggap berada di posisi tengah-tengah di antara domisili para pengurus yang berasal dari beberapa daerah di wilayah Jatim. Dan sebenarnya keputusan ini diambil secara voting di antara para pengurus, termasuk penentuan tanggal dan hari pun juga hasil dari voting. Hehehe...maklumlah pengurus FLP kan memang para 'sibuker'.


Semangat Pemimpin Dua Periode


Sambutan Ketua FLP Jatim

Siapa yang tidak mengenal ketua FLP Jatim terpilih untuk periode 2017-2019? Sosoknya tentu saja tak asing bagi anggota FLP se-Jatim karena sepak terjangnya dalam membawa Jatim dua tahun lalu membuat Rafif Amir layak untuk kembali memimpin FLP. Di antara kandidat ketua, bukan tidak ada yang lebih layak darinya, tetapi para anggota mempercayakan amanah kepemimpinan FLP Jatim saat ini di pundak Rafif Amir Ahnaf. Terbukti, akhirnya ia kembali terpilih menjadi ketua FLP Jatim untuk dua tahun ke depan.

Sama, seperti saat mukerwil kali ini. Semangatnya yang membara selalu bisa memberikan energi positif bagi kami para pengurus untuk menjadi tim tangguh di bawah kepemimpinannya. Di awal sambutannya pada pembukaan mukerwil ia memastikan kembali komitmen kami para pengurus ini. Bahkan sosok pria yang akrab disapa Babe Rafif ini mengingatkan kembali bahwa berjuang bersama FLP dalam dakwah bil qalam akan meminta kita banyak berkorban. Termasuk untuk hadir di momen mukerwil kali ini, tak terlepas dari pengorbanan.

Babe Rafif juga mengucapkan terima kasih kepada panitia dari FLP Surabaya yang telah memfasilitasi tempat selama acara. Memberikan apresiasi kepada pengurus yang hadir dan tetap mendoakan pengurus yang berhalangan hadir karena satu dan lain hal.


Sosialisasi Arahan Kerja untuk 6 Bulan ke Depan




Selaku ketua FLP wilayah, Babe Rafif memulai mukerwil dengan memaparkan sejumlah arahan kerja untuk 6 bulan ke depan. Babe mengelompokkan 3 rumpun besar dari divisi yang ada di kepengurusan tahun ini berdasarkan irisan kinerja masing-masing divisi tersebut. Diantaranya:

1. Rumpun Kesekretariatan, rumpun kesekretariatan ini terdiri dari, Sekretari dan divisi Humas,
2. Rumpun Keuangan yang terdiri dari Bendahara dan divisi Bisnis,
3. Rumpun 3 Pilar yang meliputi, bidang kaderisasi, divisi karya, dan jarcab (jaringan cabang).

Dalam pengantarnya Babe Rafif mengatakan bahwa,
Ibarat sebuah tubuh bahwa rumpun keuangan ibarat aliran darah, rumpun 3 pilar adalah tulang-belulang, daging dan tubuhnya. Sementara kesekretariatan adalah tampilan luar selayaknya pakaian.

Disney Strategy untuk Membuat Proker 


Suasana diskusi 



"If you can dream it, you can do it"
-Walt Disney-

Sebelum membuat proker, Babe Rafif menjelaskan kepada kami tentang metode disney strategy. Mungkin sebagian dari kita sudah mengenal strategy analisis yang digagas oleh seorang pelopor NLP (Neuro Linguitic Program) yang bernama Robert Dilts.

Ada tiga level untuk memulai strategi ini. Di level pertama, berkumpul dalam tiap divisi, kami diminta untuk mengisi form Dreamer. Form ini berisi tabel yang harus diisi dengan mimpi-mimpi tiap divisi tanpa berpikir tentang realisanya. Murni menggunakan otak kanan untuk mengisinya. Mula-mula saya bingung, tapi setelah beberapa menit berlalu otak kanan saya pun kemudian bisa bekerja. Terbukti form yang mula-mula kosong sudah mulai terisi meski tidak penuh.

Level kedua, dari form Dreamer yang sudah kita isi tadi, diminta untuk mendiskusikan dengan kelompok rumpun masing-masing. Hingga ke level 2 Realis dan level 3 Critic. Seru. Tentu saja pada sesi ini kami sangat antusias untuk saling memberikan masukan satu sama lain. Sayangnya, waktu keburu habis, padahal masih tersisa dua divisi yang belum kami bahas.

Kuisioner Ta'aruf ala Babe Rafif 





"Tak kenal, maka...Ta'aruf (kenalan)"

Tentu saja semua sepakat dengan pepatah yang sudah mengalami sedikit perubahan ini. Meski sering mendengar nama dan berinteraksi via grup WA. Rasanya tidak afdhol jika tak melakukam ta'aruf mendalam. Begitu pula yang kemudian kami lakukan di antara para pengurus yang datang.

Sebelum ishoma, Babe Rafif meminta masing-masing dari kita mengisi sebuah kuisioner yang terdiri dari 2 halaman. Bebera pertanyaan yang diajukan dalam kuisioner nampak sangat mudah dan sederhana. Tetapi cukup membuat kami memutar otak untuk menjawabnya dengan jujur.


Setelah semua dipastikan selesai mengisi kuisioner, Babe Rafif membacakan satu persatu secara bergantian kuisioner yang sudah terkunpul tersebut. Tugas kami kemudian menebak siapakah 'sang tersangka' yang memiliki ciri-ciri seperti yang terdapat dalam jawaban yang dibacakan. Seseorang yang ciri-cirinya dibacakan diminta untuk tetap diam hingga peserta lain berhasil menebaknya dengan benar sesuai dengan ciri-ciri dari jawaban yang dibacakan.

Keseruan pun bertambah, saat satu persatu nama peserta tertebak. Hanya ada dua peserta yang tidak tertebak, uniknya dua-duanya bernama Novi. Saya sendiri Bunda Novi, satu lagi Mbak Novi Larasati, dari divisi Bisnis perwakilan dari FLP Sidoarjo. Suasana pun makin hangat saat babe selesai membacakan kuisioner karena berakhir dengan bertambahnya keakraban yang semakin terjalin erat selayaknya sahabat lama yang lama tak berjumpa.


Mbak Sinta Yudisia Hadir Memberikan Motivasi 



Dalam mukerwil ini juga hadir pula penulis nasional sekaligus mantan ketua FLP Pusat yang saat ini menjabat sebagai Dewan Pertimbangan Pusat (DPP) FLP, Sinta Yudisia. Mbak Sinta begitu saapaan akrab kami kepada beliau,  hadir di tengah-tengah kami setelah sesi ishoma selesai. Siang itu, ada 3 hal yang disampaikan Mbak Sinta kepada kami para pengurus FLP yang baru.

Ketiga hal tersebut adalah Tiga Pilar Utama yang harus terus ada dan saling bersinergi keberadaanya di organisasi kepenulisan FLP. Apa saja 3 pilar itu?

1. KeIslaman
2. Keorganisasian
3. Kekaryaan

Ketiga pilar ini sangat penting dan wajib dimiliki oleh setiap anggota FLP di manapun berada. Beliau berkisah, tentang seseorang yang tinggal di sebuah negara di mana hampir mayoritas penduduknya hanya menuhankan materi di atas segala-galanya. Karenanya, dengan pemahaman Islam yang benar, berupaya untuk mengaji dan mengkaji Islam,  kita akan lebih bijak menetukan arah kehidupan.

Begitu juga dengan pilar kedua, keorganisasian. Sebagai organisasi yang bergerak dalam Dakwah bil Qalam, hendaknya kita senantiasa merasa bahwa kitalah yang butuh dakwah, bukan dakwah yang butuh kita. Betapa barangkali banyak di antara kita yang mungkin sering 'tekor' daripada untungnya. Biarlah kelak Allah yang akan membalas semua pengorbanan kita. Karena tak akan ada yang sia-sia dari yang sudah kita perbuat di dunia, termasuk berjuang bersama FLP sebagai organisasi kepenulisan.

Pada poin ketiga ini: kekaryaan, Mbak Sinta memberikan motivasi kepada kami agar selalu mengasah ketrampilan menulis kami secara terus menerus. Rajin mengirimkan tulisan ke media masa, dll. Berupaya untuk terus menjadi spesialis pada genre tulisan yang diminati dan mengahasilkan karya-karya yang banyak diminati di pasaran. Serta mendorong kami untuk belajar bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Dan ini adalah penutup yang sangat manis sembari beliau membagikan dua buku gratis kepada dua orang pengurus terpilih: Sofi dan Andika.
Selamat, kawan! Ditunggu review dan resensinya ya?

Sofi bersama Mbak Sinta Yudisia



Selesai. 


Bumi Mahameru, 29 Januari 2018 



Total Tayangan Blog

Archive Blog

Jejak Karya

Jejak Karya
Cinta Semanis Kopi Sepahit Susu adalah buku single pertama saya, yang terbit pada tanggal 25 April 2017 tahun lalu. Buku ini diterbitkan oleh QIBLA (imprint BIP Gramedia). Buku ini adalah buku inspiratif dari pengalaman pribadi dan sehari-hari penulis yang dikemas dengan bahasa ringan tapi syarat hikmah. Ramuan susu dan kopi cinta dari hati penulis ini menambah poin plus buku ini sangat layak dibaca bahkan dimiliki.

Bagian Dari

Follow by Email

Blogger templates

Blogroll

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *