Belajar dari Kisah Kegigihan Fatimah binti Ubaidah Azdiyah


"Ya Allah, Tuhan yang menguasai seluruh alam. Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu pengetahuan peninggalan utusanMu. Oleh karena itu, aku memohon kepadamu ya Allah, mudahkanlah urusannya, peliharalah kesehatannya, panjangkanlah umurnya agar aku bisa melihat kepulangannya nanti dengan dada yang penuh ilmu pengetahuan. Aamiin."


Bait kalimat di atas adalah bait doa dari seorang umahatun mukminin Fatimah Binti Ubaidah Azdiyah.  Siapa saja kiranya bisa melantunkan bait-bait doa yang sama. Sebagai seorang ibu, doa terkadang menjadi senjata utama untuk mencuri perhatianNya. Apalagi sebagai seorang singlemom, doa menjadi menu utama dalam perjamuan kehidupan sejak mata terbuka hingga kelak terpejam sempurna.

Tetapi kali ini ada yang berbeda, ada sebuah kisah yang perlu kita teladani bersama tak hanya hikmah yang akan kita dapatkan setelahnya, tetapi berharap kisah ini menjadi penguat bagi para bunda yang memilki takdir yang sama, terpilih menjalani peran menjadi singlemom.

Oh...oh Siapa Dia?

Fatimah binti Ubaidilah Azdiyah adalah keturuanan dari jalur Ubaidillah bin Hasan bin Husein bin Ali bin Abi Thalib. Beliau adalah seorang perempuan yang luar biasa. Meski ditinggal Idris bin Abbas sang suami, namun dia tetap tegar mendidik anak sendiri.

Fatimah yang dikenal sebagai sosok yang smart ini ditinggal suaminya dalam kondisi yang sangat miskin dan memiliki seorrang anak lelaki yang masih balita. Fatimah memiliki keinginan yang kuat agar kelak putranya menjadi sosok yang bermanfaat untuk masyarakat dan dunia.
Tekadnya yang membaja itu membuat ia memutuskan mengajak sang anak untuk berpindah ke Mekkah agar bertemu dengan keluarga besarnya yang berasal dari suku Quraisy. Ia berharap kelak selain anaknya tidak kehilangan nama besar keluarga ia juga ingin sang anak mendalami bahasa Arab dari suku Hudzali yang saat itu tersohor dengan kefasihan berbahasa Arab.

Mengabaikan Rasa Malu 

Meski bernasab terhormat, tetapi kondisi Fatimah sangat miskin. Tetapi hal tersebut tak menyurutkan Fatimah untuk mengajak Syafi'i anaknya mendatangi langsung ahli-ahli fikih, sastra dan para ulama di bidang lainnya demi sang putra mendapatkan pendidikan terbaik meski beliau miskin dan tak mampu membayar sang guru.

Fatimah menahan rasa malu saat mencari seorang guru yang berkenan mengajari anaknya dengan suka rela. Kegigihannya yang luar biasa akhirnya membuat sang anak akhirnya tumbuh menjadi sosok yang sangat mencintai ilmu. Kecintaannya kepada ilmu terlihat saat Syafi'i suka mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta untuk menuliskan ilmu yang telah didapat.

Melepas dengan Doa

Sebagai seorang ibu, siapa kiranya yang tidak berat saat akan ditinggal putra semata wayangnya untuk menuntut ilmu? Demikian juga yang terjadi pada Fatimah. Saat Syafi;i berusia 15 tahun, putra semata wayangnya tersebut memohon izin untuk belajar ke kota Mekkah. Awalnya Fatimah menolak permintaan Syafi'i akan tetapi saat beliau teringat akan visinya bersama sang suami saat masih hidup yang mencangankan bahwa kelak sang putra akan menjadi orang yang bermanfaat untuk ummat, luluhlah hatinya. Beliaupun mengantarkan Syafi'i dengan sebait doa sepenuh keridhaan agar Allah senantiasa menjaganya dan kelak sepulangnya akan menjadi manusia yang menggenggam ilmu di dalam dadanya.

Bagaimana bunda? Cukuplah kisah Fatimah Binti Ubaidilah Azdiyah ini menjadi sebuah kisah yang bisa kita ambil hikmahnya untuk kita para bunda yang ditakdirkan menjalani peran sebagai seorang singlemom. Dengan tekad yang kuat serta keyakinan yang mengakar, mari fokus untuk mendidik anak-anak kita menjadi generasi yang mencintai ilmu dan tentu saja itu dimulai dari diri kita sebagai ibu madrasah pertama anak-anak kita.

Wallahu a'lam bishowab...

Lumajang, 16 Ramadhan 1441H
dalam khauf dan raja' pada hamparan kisah di masa depan yang kita tak pernah tahu akan menjalani peran apa lagi dari skenario dalam episode hidup yang telah Dia rancang.

#inspirasiramadhan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-9

0 komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Blog

Jejak Karya

Jejak Karya
Cinta Semanis Kopi Sepahit Susu adalah buku single pertama saya, yang terbit pada tanggal 25 April 2017 tahun lalu. Buku ini diterbitkan oleh QIBLA (imprint BIP Gramedia). Buku ini adalah buku inspiratif dari pengalaman pribadi dan sehari-hari penulis yang dikemas dengan bahasa ringan tapi syarat hikmah. Ramuan susu dan kopi cinta dari hati penulis ini menambah poin plus buku ini sangat layak dibaca bahkan dimiliki.

Bagian Dari

Follow by Email

Blogger templates

Blogroll

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *