Memetik Hikmah dari Spirit Perang Badar


Momentum Nuzulul Quran tidak akan pernah bisa dipisahkan dengan perisitwa yang terjadi di tanggal yang sama, waktu yang sama, hari yang sama, di hari yang sama, dan bahkan disandingkan oleh Allah dalam Alquran dalam satu ayat di dua peristiwa dengan keterangan yang sangat indah quran surah kedelapan ayat 41 Allah sampaikan di ujung ayat ini,



 وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ وَمَا أَنْزَلْنَا 

  عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ


Artinya:
 Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

  
وَمَا أَنْزَلْنَاعَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ
Dan apa yang kami turunkan kepada hamba Kami, maksudnya Allah turunkan Alquran di hari ini  

  يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ ۗ

Pada hari dan momentum saat itu terjadi pertemuan dua pasukan besar yang saling
bertempur dengan yang lainnya. 

Peristiwa ini kemudian dikenal dalam sejarah dengan Perang Badar.  



Pertanyaannya, apa esensi dari peristiwa Perang Badar ini sampai sangat luar biasanya momentum ini diabadikan di dalam Alquran disandingkan dengan proses turunnya Alquran.

Dari sini kita akan coba mempelajari kemudian mengambil hikmah dari peristiwa Perang Badar yang bisa kita aktualisasikan di era kekinian.

Para ulama memberikan gambaran seperti yang diuraikan di ayat tadi bahwa Perang Badar mempertemukan dua pasukan besar. Dan dua pasukan ini adalah gambaran dua hal yang bertentangan.

1. Baik dan Buruk
Pasukan pertama menggambarkan sebuah kebaikan dengan nilai-nilai yang mulia, sementara pasukan kedua menggambarkan keburukan dengan nilai-nilai yang sangat tercela.

Maka hikmah pertama menurut para ulama, seakan-akan ingin menampakkan pada kita dalam kehidupan bahwa kita akan dihadapkan dengan dua hal yang bertentangan diantaranya baik dan buruk.

Pelajaran besarnya adalah jika kita dalam kehidupan berada pada posisi yang baik maka kita akan dihadapkan pada tantangan yang berwujud keburukan yang seakan-akan menguji kualitas kebaikan kita.

Dalam prakteknya, contohnya jika kita berproses ingin menjadi orang baik misalnya, maka karena lawan dari baik itu buruk. Maka saat anda berproses menjadi baik maka akan datang tantangan-tantangan keburukan yang datang pada kita.

Contoh:
Dulu saat kita ngumpul-ngumpul di tempat nggak jelas kemudian saat ini sering nongrong di masjid tiba-tiba kita dihina dan dicela. Dipanggil dengan sebuatan sholih, padahal nama kita bukan sholih misalnya.
Dari sini saat kata sholih diletakkan dalam kalimat celaan, sesungguhnya itu bukan celaan kepada kita, tetapi kalimat pujian yang dititipkan kepada lisan pencela bahwa kita telah berubah sekarang.
Sebaliknya jika suatu saat kita berperilaku yang buruk maka kita akan meghadapi kebaikan untuk mengingatkan kita agar meninggalkan nilai-nilai keburukan yang dimaksudkan.

Contoh:
Saat kita meninggalkan sholat, kemudian ana yang mengingatkan untuk sholat.
Pada hakikatnya bukan Allah menginginkan kita larut dalam keburukan, tetapi Allah menginginkan kita untuk datang pada kebaikan.
Nabi bahkan mencotohkan dengan Perang Badar , bergelut untuk mendapatkan kebaikan. Sekarang konteksnya, kita hadirkan nilai kebaikan itu saat kita ditantangkan pada nilai-nilai keburukan yang ada di hadapan kita.

Poinnya jika kita mendapati keburukan dimanapun, maka cari lawannya yang baik. Misal ada orang marah, kita bersabar, ada orang mencela kita memuji, ada orang rakus kita dermawan.

2. Semangat
Jika dimunculkan kata badar, maka di sini akan hadir nilai yang luar biasa, yakni semangat mendekat kepada Allah SWT.
313 melawan 1000 orang tetapi tidak meluluhlantakkan semangatnya sekalipun peperangan itu hadir di bulan ramadhan.
Ada pelajaran penting di sini bahwa saat itu para sahabat nabi di saat menunaikan puasa ramdhan pada tahun ke-2 Hijriyah mereka langsung dihadapkan pada pertempuran yang luar biasa. Dan luar biasanya lagi mereka tetap bersemangat.

Duhai kita...
yang sedang tidak berperang saat ini, pun tidak dihadapkan dengan musuh,
Duhai kita...
yang saat ini hanya dihadapkan dengan pekerjaan; memasak, mengurus anak, ke kantor meski diselingi dengan WFH.
yang jauh dari kualitas Perang Badar. 

Sudahkah sampai hari ke-17 Ramadhan ini kita tetap semangat menjalani puasa?
Memperbanyak amal sholih?
Dan menghindari bermalas-malasan pun hanya sekedar rebahan berjam-jam di depan gawai demi eksistensi?

Jangan-jangan para sahabat nabi yang mulia, yang sudah dijamin masuk surga, dekat dengan nabi, dan sedang di medan pertempuran Perang Badar tetapi itu semua tak menyurutkan semangat mereka untuk tetap berpuasa dan mengejar keutamaannya. 

Lalu bagaimana dengan kita?
Sahabat bukan, tabiin bukan, pun tak ada jaminan surga sampai hari ini. Sementara sampai hari ke-17 Ramadhan ini aktifitas kita cuma begini-begini aja, lebih sering memperbanyak aktifitas tidur dan dengkur serta segudang pembenaran bahwa tidur itu sunnah orang berpuasa, baru sahur sudah bertanya kapan buka, dst.
Lalu, di mana kualitas kita di hadapan Allah?

Mari, mumpung masih ada waktu terus jaga semangat kita dengan mengisi puasa kita ini dengan meneladani semangat para sahabat saat puasa dan tetap berada di medan badar.

 Wallahu a'lam bishowab...

Lumajang, 17 Ramadhan 1441H
dalam syahdu panggilanMu menjelang senja di tujuh belas Ramadhan. Kemudian aku terpaku, memikirkan kalimat singkat-singkat (yang ketika dirangkai jadi kalimat ternyata lumayan panjang juga ya!) dari seorang kawan sekaligus adik sebada dhuha tadi dalam chat penuh semangat: "Sujud, Mbak! Ben nemu feel. Gambar seperti rindumu. Ngalir aja dulu, jangan banyak dipikir. Allah sudah menitipkan kepadamu, Mbak. Dan bisa jadi ini adalah part penjemputanmu paling dahsyat. Pintu pahala terbuka lebar. Sampeyan bisa karena Allah. Pakai kehalusan hatimu. Dialog sama Allah."
Laa haulaa walaa quwwata illah billah...berharap energi badar merasuk ke dalam relung-relung hati.

#inspirasiramadhan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERMSEMADI_HARIKE-10


Sumber pict: pinterest













0 komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Blog

Jejak Karya

Jejak Karya
Cinta Semanis Kopi Sepahit Susu adalah buku single pertama saya, yang terbit pada tanggal 25 April 2017 tahun lalu. Buku ini diterbitkan oleh QIBLA (imprint BIP Gramedia). Buku ini adalah buku inspiratif dari pengalaman pribadi dan sehari-hari penulis yang dikemas dengan bahasa ringan tapi syarat hikmah. Ramuan susu dan kopi cinta dari hati penulis ini menambah poin plus buku ini sangat layak dibaca bahkan dimiliki.

Bagian Dari

Follow by Email

Blogger templates

Blogroll

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *