Ramadhan Spesial Bersama Buah Hati


Ayah bunda ada yang merasa mulai bingung dengan kegiatan ananda karena jeda waktu untuk tidak ke sekolah sudah terlalu lama?

Sama. Sebagai orang tua saya juga merasakan hal yang juga dirasakan oleh hampir sebagian besar orang tua. Apalagi Ramadhan kali ini ada yang spesial, ananda yang dulu ditimang-timang beberapa waktu sebelum Ramadhan menjelang resmi dinyatakan bukan anak-anak lagi. Ianya sudah bertumbuh, menjelma sosok remaja 'kecil' di mata saya. Hingga saya kemudian lebih pas menyebutnya teman diskusi yang hangat bahkan kadang panas karena ada sesi di mana kami saling berdebat yang bermula dari kecemasan saya yang kadang kelewat batas.

Tiga tahun lalu saya sudah berusaha untuk mempersiapkan masa-masa remajanya ini. Bahkan setahun yang lalu saya juga sering mengajaknya berdialog ringan tentang seputar masa baligh bersamanya. Meski beberapa poin harus saya relakan untuk dibantu oleh ustadznya di sekolah maupun via halaqah pekananya. Sebagai seorang singlemom yang dititipi anak lelaki satu-satunya saya merasa perlu berbagi bab ini. Di beberapa  buku siroh memang ada banyak kisah tentang pendampingan masa remaja ini. Tetapi di beberapa buku parenting populer jarang sekali saya temukan yang membahas detail terkait pendampingan terhadap ananda yang beranjak remaja bagi seorang singlemom seperti saya. Barangkali ini nanti bisa menjadi ide untuk dirumuskan menjadi sebuah blue print buku tentang pendampingan ini.

Karena itu, di Ramadhan kali ini saya coba untuk menulis bagaimana sih tips menjadi orang tua idaman remaja? Dari beberapa buku yang saya baca yang saya kemas dengan pengalaman pribadi, saya menemukan beberapa poin di antaranya sebagai berikut:

1. Luangkan Waktu
Adanya kita orang tua di masa ini kadang menjadi tiada di depan anak-anak kita. Anak saya pernah bahkan mungkin sering memprotes saya yang lebih asyik berinteraksi dengan gawai daripada bercengkrama dengannya. Jujur ini bukan karena kesengajaan, dunia di balik layar kaca gawai kadang secara tidak sadar membuat saya tidak fokus memberikan waktu untuknya yang sedang butuh berdialaog dengan kita. Contoh nih ya, saat saya sedang rapat online di grup watshapp, tetiba dia bertanya tentang suatu hal, tanpa melihat ke arahanya saya kemudian hanya berucap, "Hemm..." dan setelahnya ia langsung berlalu dari hadapan saya dan bilang, "Bunda selesaikan dulu wes urusannya." Hal ini kemudian membuat saya instrospeksi diri. Sedih.
Sayangnya, banyak di antara orang tua yang berapologi tentang quality over quantity. Bahwa waktu yang berkualitas lebih utama dibanding kuantitas waktu yang disediakan. Sekilas memang nampak tidak ada yang salah dengan ungkapan ini. Namun, coba kita cermati sekali lagi, seolah kalimat ini menggiring opini kita untuk memilih antara kualitas dan kuantitas. Padahal keduanya itu penting dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Kenapa? karena pada kenyatannya anak-anak membutuhkan keduanya.
Ikatan hati itu bukan karena faktor darah, tetapi ikatan hati itu hanya bisa diperoleh dengan intensitas perhatian.
Intensitas ini diperoleh dari kuantitas dari waktu yang berkualitas. Jadi, mulai saat ini luangkan waktu untuk membersamai momen-momen berharga meraka sebelum terlambat dan menyesal. Pun di bulan Ramadhan ini, mendampinginya dengan sepenuh hati melakukan hal-hal yang mungkin receh di mata sebagian kita orang tua seperti mendampingi sahur, memulai pagi dengan workout bersama, membuat kegiatan yang penuh tantangan dan kreatifitas dengan memberikan kepercayaan kepada mereka untuk menyelesaikan dalam batas waktu yang disepakati. Ajari untuk mulai membuat keputusan memilih tarawih di rumah atau di masjid terdekat di saat pandemi seperti saat ini yang membuat kami terus bersiaga, dll.  Buat juga kegiatan ringan seperti saling memijat, berbagi cerita receh dan lucu yang ternyata sangat efektif menumbuhkan ikatan hati antara kita dan ananda makin erat.

2. Kenali Sahabat Anak-anak Kita Beserta Orang Tuanya
Anak yang baik sosialisainya dengan lingkungan akan memiliki teman dekat atau mereka biasanya menyebut dengan sahabat. Selayaknya kita para orang tua juga pernah punya geng di masa sekolah dulu. Pun anak kita. Davis, seorang pakar psikologi mengatakan bahwa ikatan peer group bisa menggantikan posisi orang tua dalam kedekatan personal. Maka sebagai orang tua kita harus berhati-hati apalagi bagi seorang singlemom kita harus bersandar kuat hanya kepada pemilik pundak, Allah SWT untuk mengawal bab ini.
Dalam haditsnya Rasulullah SAW bersabda:
Permisalan teman duduk yang sholih dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Ada pun penjual minyak wangi, bisa jadi dia kan memberimu minyak wangi, atau kamu akan membeli darinya atau kamu mendapat bau harum darinya. Ada  pun tukang pandai besi, bisa jadi dia akan membuat pakaianmu terbakar, atau kamu akan mendapatkan bau yang tidak sedap darinya. (HR. Bukhari Muslim)
Dari hadits di atas, kita melihat betapa teman itu memiliki pengaruh yang sangat besar utuk anak-anak kita. Para bunda harus memastikan buah hatinya memiliki perilaku tidak menyimpang dengan mendeteksi sejak dini siapa teman-temannya. Karena pengaruh teman ini akan menular melalui pergaulan. Meski sebenarnya kita orang tua bukan membatasi tetapi memberikan gambaran kepada anak agar ia bisa memilah dan memilih teman yang baik dalam pergaulannya.Saya sendiri pernah punya pengalaman terkait hal ini bahkan mungkin bisa dikatakan sering.

Jadi begini, kami berdua (saya dan anak saya) tinggal berdua terpisah dari kedua orang tua. Suatu waktu ia akan merasa bosan dengan dunianya yang kemana-mana ketemu bunda, sementara dia merasa tidak sreg bermain dengan teman-teman anak tetangga. ketika saya tanya jawabnnya cukup singkat, "Nggak nyambung Hanif, Nda!". Jadwal memegang gawai yang hanya dua hari di hari Sabtu dan Ahad juga akhirnya membuat dia bosan tak terkira menunggu kapan jadwal itu akan datang sementara hampir semua anak-anak sekarang mainan utamanya HP. Mungkin ketika sebelum pandemi kebosanannya itu bisa saya alihkan dengan memasukkan ananda di sebuah club bola  sesuai dengan hobinya. Tapi, di saat seperti ini kita orang tua harus pandai menyusun aktifitas yang membuat ananda betah di rumah. Dan jujur, hal ini tidak mudah. Akhirnya lepas juga ia bermain dengan anak tetangga di lingkunngan rumah utinya, tentu saja kemudian hal ini menyisakan PR buat saya. Tapi sejauh ini, selama kami berdialog ia cukup mengerti kenapa saya begitu cerewet dalam hal memilih teman. Hingga kemudian sekarang ia mulai punya filter meski ya gitu namanya juga anak-anak pasti masih bisa dipengaruhi dan dibujuk untuk ikut melakukan hal yang tidak benar. Next saya akan cerita suka dukanya mendampingi ananda yang sudah beranjak remaja dengan dua kali pernah dipanggil kepala sekolah hanya karena ia terpengaruh teman-temannya.
Anak itu ibarat spons, ia akan mudah menyerap apapun informasi yang mampir di pancainderanya. Tugas kita orang tua adalah mengarahkannya.
3. Menjadi Tempat Curhat
Suatu hari tiba-tiba Hanif spontan bertanya pada saya, "Bunda waktu SD pernah pacaran?"
Sontak saya terkejut, meski saat itu saya masih bisa menyembunyikan keterkejutan saya dengan tersenyum kepadanya. Umpan baliknya sungguh di luar dugaan saya, "Ayo Bunda jujur sama Hanif, pernah pacaran nggak?"
Kedengarannya mungkin klise tetapi pertanyaan ini cukup membuat saya berpikir keras. Bukan tersebab pernah atau tidaknya saya berpacaran semasa SD tetapi saya memutar otak untuk bertanya balik kepadanya tentang informasi terkait kosa kata pacaran yang ia tanyakan itu ia dapatkan dari mana atau siapa. Ah, sungguh saat itu saya merasa kecolongan. Meski bagi sebagian orang tua ini adalah hal biasa saat ananda memasuki masa-masa awal usia remaja yang begitu membuat deg-degan.
Saya sempat merenung agak lama setelah dialog kami selesai.
"Kenapa ya, kecenderungan seorang guru itu mudah mendidik siswa siswinya di banding anak sendiri?" ucap saya dalam hati.
Lamat-lamat sebada dhuha saya pun kemudian sampai pada memungut butiran hikmah tetang sebuah keteladan orang tua terhadap anaknya, pun setelah saya pungkasi tadabbur surat Lukman seolah mebuat saya kemudian diam-diam menitikkan air mata, menyesal.
Lalu, apa hubungannya keteladan dengan tempat curhat paling nyaman?

#inspirasiramadhan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-3



Bersambung...

Lumajang, 10 Ramadhan 1441H saat diri masih terus belajar menjadi seorang bunda, profesi sejati seorang wanita.

0 komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Blog

Jejak Karya

Jejak Karya
Cinta Semanis Kopi Sepahit Susu adalah buku single pertama saya, yang terbit pada tanggal 25 April 2017 tahun lalu. Buku ini diterbitkan oleh QIBLA (imprint BIP Gramedia). Buku ini adalah buku inspiratif dari pengalaman pribadi dan sehari-hari penulis yang dikemas dengan bahasa ringan tapi syarat hikmah. Ramuan susu dan kopi cinta dari hati penulis ini menambah poin plus buku ini sangat layak dibaca bahkan dimiliki.

Bagian Dari

Follow by Email

Blogger templates

Blogroll

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *