Terminal Ruhiyah itu Bernama Ramadhan



Jika kita seorang musafir yang sedang melakukan perjalan ke suatu kota atau daerah pastilah dalam menempuh perjalan saat menggunakan kendaraan umum kita akan selalu singgah di sebuah terminal. Tempat pemberhentian kendaraan sementara.

Pertanyaannya,
Saat bus atau kendaraan yg kita naiki berhenti di terminal, apa yang para awak bus lakukan?

Benar sekali. Bongkar muatan, mengecek bahan bahar, memastikan mesin dan rem dalam kondisi prima, dll

Jika dianalogikan sebuah terminal, Ramadhan adalah terminal ruhiyah. Tempat pemberhentian sementara untuk menge-charge ruhiyah kita agar makin prima menghadapi 11 bulan berikutnya.

Nah, sebagai tempat pemberhentian sementara, tentu saja Ramadhan juga memiliki banyak keutamaan dan kemuliaan. Karena itu kali  ini agar keutamaan dan kemuliaan Ramadhan tak berlalu begitu saja berikut langkah agar kita dapat meraih segudang kemuliaan dan manfaat serta lebih siap untuk menghadapi Ramadhan (meski hari ini sudah menginjak hari ke-22) in sya Allah tidak ada yang terlambat, masih relevan dan bisa diterapkan di masa yg akan datang. In sya Allah.

1. MengenalBulan Ramadhan

“Tak kenal maka tak ta’aruf atau kenalan”.
Langkah pertama adalah mengenal dengan baik bulan Ramadhan. Mengenal disini bukan hanya sekedar kenal dan tahu bulan Ramadhan adalah salah satu bulan Hijriah, yang didalamnya kaum muslim diwajibkan untuk berpuasa selama sebulan penuh. Ada shalat malam. Tidurnya orang yang berpuasa mendapat pahala. Ini saja tidaklah cukup. Namun, semestinya disertai dengan penghayatan yang dibarengi dengan kajian serta mempelajari segala nilai dan hal-hal yang beraromakan Ramadhan. Sehingga hal ini akan semakin mendorong seseorang untuk memanfaatkan semaksimal mungkin bulan suci Ramadhan. Dan tentunya buah dari mengenal ini adalah akan merasa sangat bersedih saat harus berpisah dengan bulan mulia ini. Sebagaimana seseorang yang lagi mabuk asmara, yang akan merasa kehilangan dan bersedih ketika hendak berpisah dengan sang kekasih dambaan hatinya. Seharusnya begitulah kita, akan sangat sedih ketika akan ditinggalkan oleh Ramadhan.

2. Membuat Program di Bulan Ramadhan

Saat Ramadhan tiba, seringkali kita menforsir segenap tenaga untuk meningkatkan nilai spiritual. Selesai Tarawih langsung tadarus tanpa istirahat sampai begadang malam-malam,  kemudian dilanjutkan dengan shalat malam sampai sahur. Siang hari mata selalu terjaga dan mulut tidak menggosip dan sibuk dengan terus berzikir. Rutinitas ini terus bergulir selama sebulan penuh.
Semestinya tidaklah demikian. Memang benar bulan Ramadhan merupakan momen tepat untuk meningkatkan spiritual dalam rangka menge-charge ruhiyah tadi. Namun, apakah selesai Ramadhan nanti spiritual tersebut akan tetap utuh? Apakah shalat malamnya masih terus berlanjut? Apakah siang hari akan tetap sibuk dengan berzikir?
Hal yang semestinya dilakukan bukanlah menforsir tenaga, namun mempersiapkan sejumlah daftar rencana aktifitas harian yang hendaknya komitmen untuk dikerjakan pada bulan ini, baik itu membaca Alquran, shalat, menelaah buku, berbagi buka puasa dengan tetangga dan masyarakat sekitar serta membantu orang-orang yang membutuhkan. Buat program mingguan atau sepuluh hari dengan target dan tujuan-tujuan yang sesuai. Yang terpenting adalah tujuan-tujuan ini realistis dan jangan terlalu mengubah pola hidup pada bulan ini sehingga nantinya dapat dilanjutkan seusai Ramadhan.
Apalagi di masa pandemi seperti ini, harusnya kita lebih memiliki jadwal harian agar lebih disiplin dan tidak memforsir tenaga hingga sebelum mencapai garis finish malah yang terjadi adalah kelelahan yang esensi beribadahnya justru tidak kita dapatkan. Jalani, nikmati dengan penuh keistikamahan setiap hari meski sedikit tetapi berkelanjutan. Sehingga kebiasaan tersebut bisa berlanjut di 11 bulan berikutnya. Siap?

3. Tinggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk

Bulan Ramadhan adalah momen yang tepat untuk melakukan muhasabah (intropeksi diri). Pada bulan ini hendaknya seseorang berhati-hati dan menjaga segenap perilaku serta segala tutur kata yang akan keluarkan. Jangan menzalimi, jangan menggunjing, jangan menggosip. Hindarilah ucapan-ucapan yang sia-sia, baik secara langsung maupun lewat sosial media. Nah, ini sekarang godaannya sangat luar biasa.
Kenali kebiasaan-kebiasaan buruk yang biasa kita lakukan dan hentikan mulai dari sekarang. Jangan menunggu sampai usai bulan Ramadhan. Jika menggunjing, maka hentikan. Jika malam hari terlambat tidur, dan masih asyik berselancar di sosial media, maka segera matikan. Perbaikilah kebiasaan-kebiasaan ini secara bertahap.
Alih-alih kita bekerja pada waktu shalat, luangkanlah untuk ibadah pada jam kerja. Jangan bawa Hp ke tempat ibadah dan selalu ingat Allah dan keagunganNya, yang kesemuanya ada dalam genggamanNya.

4. Komitmen dan Keseriusan

Seperti analogi di atas, jika diibaratkan sebuah terminal maka Ramadhan bagi sebagian orang adalah sebuah pemanasan. Setelah dipanaskan, maka akan siap untuk diajak menempuh perjalanan. Setelah meninggalkan hal-hal yang buruk dan selalu ingin berbuat kebaikan selama satu bulan penuh, maka hendaknya ada komitmen dan keseriusan untuk terus menjaga amalan-amalan yang sudah dibina selama satu bulan penuh sampai tiba bulan Ramadhan berikutnya.

Dengan demikian, apabila seseorang sudah mengenal dengan baik bulan Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan memprogram sejumlah aktivitas-aktivitas baik yang sesuai dengan kemampuannya dan meninggalkan kebiasaan-kebisaan buruk, kemudian dilanjutkan sampai terbentuk karakter mulia pada seseorang tersebut, maka akan dapat menunai hasil Ramadhan yang telah dibina selama sebulan penuh ini. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang dapat memperbaiki diri menuju kebaikan. Aamiin...

Wallahu a’lam bishowab...

Lumajang, 15 Mei 2020/22 Ramadhan 1441H
tulisan ini disempaikan saat Safari Ramadhan bersama FLP Lamongan. Semoga kita semua bisa menjadi pribadi yang lebih baik setelah sebulan penuh berhenti di sebuah terminal pemberhentian bernama bulan Ramadhan untuk melakukan charge ruhiyah.

Sumber gambar: pinterest

#inspirasiramadhan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-15

0 komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Blog

Jejak Karya

Jejak Karya
Cinta Semanis Kopi Sepahit Susu adalah buku single pertama saya, yang terbit pada tanggal 25 April 2017 tahun lalu. Buku ini diterbitkan oleh QIBLA (imprint BIP Gramedia). Buku ini adalah buku inspiratif dari pengalaman pribadi dan sehari-hari penulis yang dikemas dengan bahasa ringan tapi syarat hikmah. Ramuan susu dan kopi cinta dari hati penulis ini menambah poin plus buku ini sangat layak dibaca bahkan dimiliki.

Bagian Dari

Follow by Email

Blogger templates

Blogroll

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *