Meniupkan Ruh pada Tulisan





“Satu peluru hanya mampu menembus satu kepala, namun satu tulisan bisa menembus beribu kepala bahkan malah jutaan.” (Sayyid Qutb)

Betapa dahsyatnya pengaruh sebuah tulisan yang kita hasilkan. Apalagi jika tulisan tersebut memiliki pengaruh sangat dahsyat hingga membuat orang lain berubah menjadi lebih baik. Tak jarang, beberapa tulisan menjadi washilah hijrahnya seseorang menuju rabb-Nya.
Sebaliknya, jika tulisan itu berisi ajaran sesat atau keburukan. Pastilah yang terjadi adalah rusaknya peradaban.

Saya jadi teringat kisah seorang bangsawan berkebangsaan Perancis, Marque De Sade penulis filsafat yang diganjar hukuman 29 tahun penjara karena menulis perihal yang bertentangan dengan ajaran gereja. Tulisan De Sade dianggap melanggar etika dan tata krama karena mengumbar nafsu dan seksualitas. Kisahnya tragis, hingga ia mengakhiri hidupnya dalam sel penjara tanpa apa-apa termasuk pakaian yang melekat di tubuhnya. Tetapi yang menarik, di akhir hidupnya itu, De Sade masih berusaha menulis di tembok penjara dengan kotorannya sendiri setelah tak satupun benda atau anggota tubuhnya yang bisa digunakan untuk menyalurkan pemikirannya. Kisah Marque De Sade ini sempat difilmkan di tahun 2000 silam dengan judul The Quills.

Lain halnya dengan kisah seorang imam penulis kitab Shahih Bukhari. Beliaulah Imam Bukhari, seorang imam yang sudah tak diragukan lagi bagaimana sifat wara’ beliau kepada Allah. Sampai ketika menyusun kitab Shahih Bukhari pun beliau harus sangat hati-hati.

Seperti kisah beliau yang dituturkan salah seorang muridnya, al-Firbari, Imam Bukhari suatu ketika berkata mengenai awal mula penulisan karya best seller-nya  itu, “Saya menyusun kitab al-Jami’ as-Shahih ini di Masjid al-Haram, Makkah. Dan saya tidak mencantumkan sebuah hadist pun kecuali sesudah shalat istikharah dua rakaat, memohon pertolongan kepada Allah, dan sesudah meyakini betul bahwa hadist itu benar-benar sahih.”
Allahu...Masya Allah betapa beliau sangat menjaga hubungannya dengan Allah SWT. Dzat dari segala Dzat yang meniupkan kita ruh kehidupan di atas muka bumi ini. Atas karunia Islam, iman, rezeki, kesehatan bahkan jodoh yang sholih dan sholihah dari-Nya.

Kisah Marque De Sade dan Imam Bukhari memang tak layak disandingkan. Tetapi, dari dua kisah ini kita hendak mengambil sebuah pelajaran. Motivasi menulis yang besar yang dimiliki oleh De Sade harus melebihi motivasi kita sebagai seorang muslim yang diperintahkan menyerukan kebenaran hingga cahaya iman memenuhi setiap rongga jiwa pemebacanya. Pun sifat wara’-nya Imam Bukhari harusnya menjadi teladan bagi kita para penulis. Bagaimana kita senantiasa menjaga hubungan kita dengan Allah untuk menghasilkan sebuah karya yang memiliki ruh. Teori dan teknis kepenulisan saja tetunya tidak cukup untuk menghasilkan sebuah karya yang berkualitas. Hingga hal ini senada dengan quotes dari Bunda Helvy Tiana Rosa. Beliau mengatkan bahwa,
“Buku yang kau tulis adalah semacam jejak yang terus menyala di dunia, dan bisa menjadi cahaya akhiratmu.”

Semoga dengan terus membangun kedekatan kita dengan Allah, tulisan-tulisan yang kita hasilkan akan memiliki ruh hingga sampai ke hati-hati para pembacanya. Terlebih, karena tulisan kita mereka terinspirasi dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aamiin...aamiin...ya rabb 🤲🏻


Wallahu a’lam bishowab...

Lumajang, 7 Juni 2020

0 komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Blog

Jejak Karya

Jejak Karya
Cinta Semanis Kopi Sepahit Susu adalah buku single pertama saya, yang terbit pada tanggal 25 April 2017 tahun lalu. Buku ini diterbitkan oleh QIBLA (imprint BIP Gramedia). Buku ini adalah buku inspiratif dari pengalaman pribadi dan sehari-hari penulis yang dikemas dengan bahasa ringan tapi syarat hikmah. Ramuan susu dan kopi cinta dari hati penulis ini menambah poin plus buku ini sangat layak dibaca bahkan dimiliki.

Bagian Dari

Follow by Email

Blogger templates

Blogroll

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *