Mengubur “Ari-ari” Kehidupan

 

 

Saat mennyaksikan seorang bayi yang baru lahir, saya kebetulan selalu tertarik untuk mengamati bagian tali pusar yang masih bengkak dan belum ‘cuplak’ (jawa: lepas).

Bagian ini yang sedianya adalah saluran pintar untuk mengirimkan sari-sari makanan dari tubuh ibu ke calon bayi yang masih ada di dalam kandungan yang kemudian harus dibuang dan dikubur hingga disebut sebagai ari-ari.

Sewaktu kecil pun saya seringkali suka mengamati prosesi ari-ari ini dikubur di depan rumah, ditaburi bunga-bunga, diberi penerangan berupa lampu listrik atau pun oblik, dan dikurungi memakai kurungan ayam yang terbuat dari bambu sampai “selapan” (saat bayi berumur 40 hari).

 

Mengubur Ari-ari dan Adat yang Turun Temurun

Saya kecil yang selalu ingin tahu pernah bertanya kepada nenek saat beliau mengubur ari-ari milik adik sepupu.

“Biar dijaga malaikat.” Begitu jawaban singkat beliau yang tidak pernah menjawab pertanyaan saya waktu itu hingga menguap bersama waktu.

Membahas tentang ari-ari ini memang menarik, tetapi saya tidak sedang akan membahas tentang adat istiadat di kalangan masyarakat Jawa yang saat ini sudah mulai ditinggalkan karena ilmu pengetahuan yang sudah mulai berkembang hingga masyarakat bisa berpikir kritis atas hal-hal yang tidak masuk akal. Meski pada kenyataannya masih banyak yang juga belum bisa move on dari adat istiadat ini dengan motif untuk menghormati warisan leluhur.

 

Ari-ari dan Fasilitas Hidup

Coba perhatikan saat bayi lahir, plasenta (ari-ari) dipotong dan kemudian dikuburkan sebenarnya adalah awal dimulainya kehidupan baru bagi sang bayi untuk merantau dan meninggalkan kenyamanan yang dinikmatinya kurang lebih 9 bulan 10 hari dalam kandungan ibunya. Ia akan berjuang untuk “hidup sendiri” dengan tanpa membawa fasilitas (ari-ari) yang digunakan selama dalam kandungan. Bahkan malah ari-ari itu kemudian dikuburkan, membusuk bersama mikroorganisme di dalam tanah.

Kehidupan bayi dalam kandungan ibu, dapat diibaratkan hidup yang penuh kenyamanan. Segala sesuatunya mudah diperoleh dan penuh dengan pengakuan. Namun, semua itu ada batasnya dan tidak ada yang abadi.

Mengambil analogi sang bayi tersebut, kehidupan manusia pun ternyata memerlukan waktu dan upaya maksimal untuk menyesuaikan diri di tempat yang baru. Ada yang begitu memasuki tantangan yang baru, selalu muncul keinginan untuk kembali pada nostalgia kenyamanan terdahulu yang pernah diraihnya. Ada pula demi menjaga kenyamanan diri selalu menyertakan ari-ari (fasilitas dan kawan-kawannya) di tempat yang baru.

Tua itu Pasti, Dewasa adalah Pilihan

Belajar dari sang bayi, setiap manusia dituntut untuk mandiri dan tidak bersandar kepada orang lain. Membangun tali silaturahmi dan jaringan adalah upaya yang efektif dalam rangka mengembangkan kompetensi. Namun, bergantung kepada orang lain hanya supaya dirinya terangkat, merupakan upaya yang tidak efektif untuk mengasah kemampuan diri.

Seperti halnya bayi, tak selamanya minum ASI, dia akan berkembang dalam fase MPASI. Demikian pula manusia, setiap individu yang mandiri tidak akan puas dengan tantangan pekerjaan yang biasa-biasa saja. Ia akan terus bertumbuh baik dari segi kompetensi maupun kinerjanya.

Tua itu pasti, dewasa adalah pilihan. Bertambahnya usia adalah hal yang pasti dan tidak bisa dipungkuri. Memutuskan mengubur ari-ari kehidupan dengan terus bertumbuh dan berkembang dalam peningkatan kualitas moral, spiritual, dan sosial, serta kompetensi adalah pilihan kita sendiri.

 

Wallahu a’lam bishowab...

Lmj, 1 Agustus 2020

 

0 komentar:

Posting Komentar

Total Tayangan Blog

Jejak Karya

Jejak Karya
Cinta Semanis Kopi Sepahit Susu adalah buku single pertama saya, yang terbit pada tanggal 25 April 2017 tahun lalu. Buku ini diterbitkan oleh QIBLA (imprint BIP Gramedia). Buku ini adalah buku inspiratif dari pengalaman pribadi dan sehari-hari penulis yang dikemas dengan bahasa ringan tapi syarat hikmah. Ramuan susu dan kopi cinta dari hati penulis ini menambah poin plus buku ini sangat layak dibaca bahkan dimiliki.

Bagian Dari

Follow by Email

Blogger templates

Blogroll

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *